Archive for August, 2009

Aug 30 2009

SILABUS MAKROEKONOMI II 2/2009

Published by Dias Satria under Makroekonomi

Pertemuan 1

Introduction about this course

Pertemuan 2

Macroeconomic models : A summary

Pertemuan 3

Keynesian I : The Role of Aggregate Demand

Pertemuan 4

Keynesian II : Money, Interest and Income

Pertemuan 5

Latihan Soal

Pertemuan 6

Keynesian III : Policy Effects in the IS-LM model

Pertemuan 7

Keynesian IV : AS and AD

Pertemuan 8

Quiz

Pertemuan 9

Open Macroeconomy

Pertemuan 10

Monetary and Fiscal Policy in Open Economy

Pertemuan 11

Middle Test

Pertemuan 12

Perkembangan Ilmu Makroekonomi

Neo Classical Economics VS Neo Keynesian

Case Study: Calculus

Pertemuan 13

Case Study: Matrix

Pertemuan 14

Latihan Soal

Pertemuan 15

Diskusi kelompok

Pertemuan 16

Final Test

GRADE

15% Keaktifan

25% Quiz

30% Middle Test

30% Final Test

No responses yet

Aug 30 2009

SILABUS EKONOMI INTERNASIONAL 2/2009

Published by Dias Satria under Ekonomi Internasional

Pertemuan 1

Introduction about international trade

Labor productivity and comparative advantage: The Ricardian Model

Pertemuan 2

Specific factors and income distribution

Pertemuan 3

Resources and Trade: The Heckscher-Ohlin Model

Pertemuan 4

The Standard trade model

Pertemuan 5

Latihan Soal

Pertemuan 6

Economics of scale, imperfect competition and international model

International factor movement (Additional)
Pertemuan 7

The instrument of trade policy

Pertemuan 8

Middle Test

Pertemuan 9

The political economy of trade policy

Trade policy in developing countries

Pertemuan 10

Latihan Soal

Pertemuan 11

CHINA

Pertemuan 12

INDIA

Pertemuan 13

KOREA SELATAN

Pertemuan 14

INDONESIA

Pertemuan 15

Final Test

Pertemuan 16

GRADE

15% Keaktifan

25% Quiz

30% Middle Test

30% Final Test

RESOURCES

· International Economics PAUL KRUGMAN AND MAURICE OBSTFELD

· www.bi.go.id

· The Economist (Magazine)

· The End of Poverty (Book)

· Making Globalization Work (Book)

· Common Wealth (Book)

· Economist Learning Center

No responses yet

Aug 30 2009

SILABUS ECONOMY OF INDONESIA

Published by Dias Satria under Perekonomian Indonesia

1. Introduction

· Choosing who is the Class Coordinator?

· Schedule

· Any important information related to the course

· Quiz, Mid-Test and Final Test

· Email, Website and other important information

2. Indonesian Economy: Overview

a. Understanding about some basic economic indicators

b. Macroeconomic Indicators

c. Indonesian economic problems

d. Global economic movement

Important Sources:

· Laporan tahunan Bank Indonesia (www.bi.go.id)

· Macroeconomics (Gregory Mankiw)

· Newspaper (The Economist, Kontan, Jawapos, Kompas dll)

· www.diassatria.web.id

3. A Big Hit in 1997: Asian and Indonesian Crisis Experience

a. Explaining the first triggering factor of the Big Hit

b. How the crisis can contagious to other economies (Basic channeling)?

c. How Government policy can solve the problems?

Important Sources:

· Buku Keuangan Internasional (Dias Satria)

· Newspaper (The Economist, Kontan, Jawapos, Kompas dll)

· www.diassatria.web.id

4. Global Recession and US Deficits

a. What is the factors triggering global recession?

b. US Dollar Standard

c. Talk about Global Recession

d. Talk about US Deficits

e. World Nowadays

Important Sources:

· Buku Keuangan Internasional (Dias Satria)

· Newspaper (The Economist, Kontan, Jawapos, Kompas dll)

· www.diassatria.web.id

5. Banking Industry in Indonesia

a. Explaining some basic features of Banking Indicators

b. Financial Sector Development in Indonesia

c. Important issues in banking Industry

d. Microfinance

Important Sources:

· www.bi.go.id

· Buku Keuangan Internasional (Dias Satria)

· Newspaper (The Economist, Kontan, Jawapos, Kompas dll)

· www.diassatria.web.id

6. Investment in Indonesia

a. How important Investment to the economy

b. Tell about the important requirements to attract Investments

Important Sources:

· www.bi.go.id

· Buku Keuangan Internasional (Dias Satria)

· Newspaper (The Economist, Kontan, Jawapos, Kompas dll)

· www.diassatria.web.id

7. Indonesia and a global trade

a. China’s experience

b. India’s experience

c. ASEAN

d. ASEAN+6 and China

e. Indonesian trade performance

f. What factors can increase trade surplus

Important Sources:

· www.bi.go.id

· Buku Keuangan Internasional (Dias Satria)

· Buku Chindia

· Buku The End of Poverty

· Buku Making Globalization Work

· Newspaper (The Economist, Kontan, Jawapos, Kompas dll)

· www.diassatria.web.id

8. Mid-Test

9. Small and Medium Enterprise’s

a. Picture of SME’s in Indonesia

b. What policies needed to boost SME’s in Indonesia

10. Poverty and Government Policy

a. What is Poverty

b. What policies needed to decrease poverty in Indonesia

Important Sources:

· www.bi.go.id

· Buku The End of Poverty

· Buku Making Globalization Work

· Newspaper (The Economist, Kontan, Jawapos, Kompas dll)

· www.diassatria.web.id

11. How to run business in a crisis: a CEO experience

12. DISCUSSION

13. DISCUSSION

14. DISCUSSION

15. DISCUSSION

16. Final-Test

No responses yet

Aug 30 2009

SILABUS EKO UANG BANK 2/2009

Published by Dias Satria under Important Resources

Pertemuan 1

Introduction about the course

Pertemuan 2

Money and the money supply process

Pertemuan 3

Monetary policy: Tools and strategies

Pertemuan 4

Transmission mechanisms of monetary policy

Pertemuan 5

Domestic monetary policy in the international context

Pertemuan 6

Quiz

Pertemuan 7

Banking and the management of financial institutions

Pertemuan 8

Middle Test

Pertemuan 9

Bank regulation

Pertemuan 10

International banking

Pertemuan 11

Money and the Macroeconomy model

Pertemuan 12

Diskusi

Pertemuan 13

Diskusi

Pertemuan 14

Diskusi

Pertemuan 15

Diskusi

Pertemuan 16

Final Test

GRADE

15% Keaktifan

25% Quiz

30% Middle Test

30% Final Test

No responses yet

Aug 30 2009

SILABUS MONETER 2/2009

Published by Dias Satria under Ekonomi Moneter

Pertemuan 1

Introduction to Monetary Policy

Overview of the financial system

Pertemuan 2

Structure of Central Banks (Kelembagaan dan Organisasi Bank Indonesia)

Pertemuan 3

Multiple Deposit Creation and the Money Supply Process

Pertemuan 4

Determinants of the Money Supply

Pertemuan 5

Tools of Monetary Policy

Pertemuan 6

Conduct of Monetary Policy: Goals, Strategy and Tactics

Pertemuan 7

Quiz

Pertemuan 8

The Demand for Money

Pertemuan 9

The IS-LM Model

Pertemuan 10

Monetary Policy in ISLM Model

Pertemuan 9 dan 10

Transmission Mechanisms of Monetary Policy: The Evidence

Pertemuan 11

Money and Inflation

Pertemuan 12

Kebijakan Moneter Bank Indonesia I dan

Pertemuan 13

Kebijakan Moneter Bank Indonesia II Inflation Targeting

Pertemuan 14

Quiz

Pertemuan 15

Quiz

Pertemuan 16

Final test

GRADE

15% Keaktifan

25% Quiz

30% Middle Test

30% Final Test

RESOURCES

· The Economics of Money, Banking and Financial Markets FREDERICH MISHKIN

· Makroekonomi GREGORY MANKIW; Macroeconomics RICHARD T FROYEN

· Buletin Ekonomi Moneter Perbankan

· The Economist (Magazine)

· www.bloomberg.com; www.diassatria.web.id; www.bi.go.id

· Economist Learning Center

No responses yet

Aug 29 2009

Ekonomi Moneter (keep update with Internet sources)

Published by Dias Satria under Ekonomi Moneter

Assalamualaikum wr wb

Untuk memahami Ekonomi moneter dan kebijakan moneter Bank Indonesia, ada beberapa bacaan yang harus anda fahami untuk menambah khasanah berfikir anda.

Pertama, terkait dengan apa itu kebijakan moneter secara umum

http://en.wikipedia.org/wiki/Monetary_policy

selanjutnya anda juga perlu update dengan informasi-informasi terkait dengan kebijakan moneter Bank Indonesia. sehingga link dibawah ini mungkin akan bermanfaat bagi anda.

http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/Kebijakan+Moneter/

Bank Indonesia saat ini memiliki single objective yaitu INFLATION TARGETING, berikut adalah link tentang kebijakan IT

http://www.bi.go.id/web/id/Moneter/Inflation+Targeting/BI+dan+Inflasi/

download juga pake sosialiasi ITF yang ada dbawahnya, khususnya yang ditujukan untuk para akademik.

regards

dias satria

regards

d.s

No responses yet

Aug 23 2009

Arsitektur dan Design Interior

Published by Dias Satria under Distro

web-abadi

Anda butuh jasa design arsitek dan interior yang mampu menterjemahkan keinginan anda, yang didukung dengan design yang inovatif, kreatif dan uptodate.

Hubungi kami di DUA TITIK

CP: Abadi 0811367311

No responses yet

Aug 11 2009

Era Baru Ekonomi Online

Published by Dias Satria under i am the economist

ONLINE, ONLINE… : SEBUAH ERA BARU EKONOMI

 

Dias Satria

Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan

Fakultas Ekonomi

Universitas Brawijaya

(Jawapos 5 Agustus 2009)

 

 

“Online..online….” merupakan sebuah cuplikan dari bait lagu popular yang dinyanyikan sebuah grup vocal SAYKOJI. Lagunya pun sangat sederhana dan terasa dekat dengan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat modern saat ini, yang serba “Online..online….”. Dimana kehidupan masyarakat sudah semakin tidak terpisahkan dengan Teknologi Informasi di hampir setiap kehidupannya.

Beberapa situs utama sosial ekonomi yang berkembang pesat dalam beberapa waktu terakhir, antara lain: Email, Facebook, Internet Banking, Forum Kaskus dan “Search engine” seperti Google dan Yahoo. Website tersebut jelas memiliki tingkat traffic yang tinggi karena sering dikunjungi oleh masyarakat. Sehingga, jika masyarakat bisa lebih jeli untuk melihat web-web yang bertebaran tersebut, maka sebenarnya ada peluang emas yang bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menggunakannya sebagai ajang untuk berbisnis, untuk memperluas jaringan marketingnya secara lebih optimal.

Lihat saja beberapa pengalaman masyarakat yang menggunakan facebook untuk berjualan baju muslim misalnya, atau anak-anak muda yang berjualan t-shirt di kaskus. Sudah jelas mereka menikmati keuntungan biaya marketing yang sangat rendah, jika dibandingkan dengan akses pasar yang luas di seluruh Indonesia. Hal ini jelas lebih murah dibandingkan jika mereka membuka Toko atau Ruko, atau mungkin Toko Online dengan domain yang harus dibayar setiap bulannya. Sekali lagi, mereka telah menikmati set up cost yang sangat-sangat rendah.

Bagi Mahasiswa atau pekerja yang masih memiliki waktu untuk browsing, bisnis online mungkin bisa menjadi pilihan yang tepat. Karena selain minim resiko, bisnis online diyakini memiliki pangsa pasar yang luas. Kunci sukses bisnis ini sebenarnya tidak berbeda dengan bisnis di dunia nyata, mereka dituntut untuk terus mengikuti preferensi pasar dan memuaskan konsumen, dengan inovasi dan pelayanan yang prima.

Preferensi Masyarakat

Meski alasan masyarakat ke Mall untuk berbelanja dan window shopping. Namun ada kecenderungan preferensi masyarakat bergeser kearah menghabiskan waktu di dunia maya. Hal ini selain untuk selalu mengUpdate hubungan sosial dan networknya, sekaligus mereka mencari barang-barang atau jasa yang berhubungan dengan leissure seperti hobi. Oleh karena itu toko-toko atau bisnis online yang marak saat ini berdagang barang-barang seperti: Gadget, Notebook, Asesoris motor, Pakaian dll.

Selain itu, maraknya bisnis online juga menggugah para perusahaan-perusahaan yang telah exist untuk nimbrung menikmati keuntungan di dunia maya dengan berjualan ONLINE.

Siapa saja yang untung ?

Namun tentu saja masyarakat sekarang telah lebih jeli dan kritis dalam memilih dan membeli barang. Oleh karena itu sudah sewajarnya para penjualpun harus semakin inovatif dan kreatif agar lapak Onlinenya selalu survive dan menuai keuntungan. Satu hal penting yang harus disadari oleh para penjual adalah bisnis online memiliki jejaring network yang sangat luas, sehingga lalu lintas informasi begitu tinggi. Hal inilah yang harus selalu dipegang oleh para penjual, bahwa para pembeli atau masyarakat sangatlah WELL-INFORMED, atau mereka sangat-sangat faham dengan informasi yang berkeliaran dimana-mana. Dan jikapun memang mereka merasa terbohongi atau tertipu baik dalam bentuk harga dan kualitas, maka mereka pun akan sangat mudah untuk curhat dan menceritakannya ke seluruh dunia.

Hal ini tentu akan menjadi batu sandungan bagi para pembeli yang telah melukai hati para pembelinya. Sama halnya dengan bisnis di dunia nyata, set up cost “kepercayaan” mungkin sangatlah mahal dan tidak mampu dibayar secara materi. Dan Kepercayaan ini tidak semudah mencari modal. Perlu waktu lama untuk membuat brand image dan sebuah kredibilitas di dunia maya. Dan hal inilah yang mungkin akan membuat anda survive dan menuai keuntungan yang nyata.

Bagaimana peran pemerintah

Bisnis online tidak bisa dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Sedikit banyak bisnis ini jelas telah menyambung hidup jutaan masyarakat Indonesia. Baik masyarakat yang menikmati keuntungan harga dan pilihan yang banyak sebagai pembeli, ataupun masyarakat yang menikmati keuntungan karena berjualan. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukkan dukungan dan support khususnya dalam memperbaiki regulasi dan pengawasan sistem ini.

Dukungan pemerintah dalam konteks memajukan bisnis online, antara lain:

Pertama, Pemerintah harus memberikkan insentif yang besar bagi perusahaan-perusahaan telkomunikasi untuk melakukan investasi yang besar dalam fiber optics. Agar akses internet untuk menunjang transaksi bisnis dapat lebih cepat, tentu dengan biaya yang juga relative murah. Insentif ini dapat diberikkan berupa keringanan pajak bagi perusahaan yang ingin melakukkan investasi besar guna mencapai skala ekonomi yang tinggi.

Kedua, Pemerintah selayaknya memiliki regulasi  untuk melindungi hak-hak konsumen dunia maya. Hal ini dilakukkan guna menghindari Moral Hazzard pelaku bisnis (penjual) di dunia bisnis online.

Ketiga, Pemerintah hendaknya dapat memfasilitasi dunia perbankan untuk menciptakan sistem pembayaran yang dapat mendukung transaksi pembayaran yang lebih efisien dan murah.  Meski juga perlu dipahami bahwa tingginya fraud risk atau kriminalitas dalam penyalahgunaan kartu kredit masih tinggi di Indonesia, namun hal ini tidak boleh mengurungkan niat pemerintah untuk ikut serta menciptakan suatu system pembayaran yang sehat, efisien dan murah. Kuncinya terletak pada Law Enforcement atau penegakkan hukum bagi pelaku Kriminal, sehingga hal ini dapat mengurangi kemungkinan tersebut di masa depan.

Terakhir, bisnis online dapat berkembang secara pesat dan berkontribusi positif bagi ekonomi Indonesia jika semua pihak dapat berperan aktif menciptakan kelembagaan ini secara optimal dengan menjunjung tinggi hukum dan perilaku yang baik dalam menggunakan sistem informasi teknologi bagi kebutuhan sosial dan ekonominya. 

No responses yet

Aug 11 2009

Menghargai Kompetensi Seorang Ekonom

Published by Dias Satria under i am the economist

 

MENGHARGAI KOMPETENSI SEORANG EKONOM

 

Dias Satria

(posted in Indikator)

 

Sebagai salah satu Jurusan di Fakultas Ekonomi, Jurusan Ekonomi Pembangunan memiliki peran yang sangat signifikan dalam menelurkan para ekonom yang gigih dan berbakat. Beberapa nama penting, seperti: Sri Mulyani (Menkeu), Mari Pangestu (Memperindag), Miranda Gultom (Deputi BI), Budiono (Wapres) dan Ahmad Erani Yustika (Ekonom) adalah beberapa contoh ekonom yang tidak asing di negeri ini. Kiprahnya sudah tidak lagi diragukkan telah banyak menyuarakan dan berbuat bagi kepentingan ekonomi bangsa sesuai dengan profesi yang digeluti.

KRISIS EKONOMI: FAKTA KETIDAKBECUSAN SEORANG EKONOM?

Dalam setiap siklus ekonomi seringkali terjadi upturn dan downturn dari pendapatan nasional atau output, yang juga sangat kuat berpengaruh bagi penguatan image ekonomi dan kredibilitas suatu pemerintahan dan Negara. Ketakutan akan sebuah perekonomian yang menurun akan dapat menciptakan instabilitas sosial dan politik tentu bukanlah isapan jempol semata, hal ini terbukti dari beberapa fakta yang terjadi di tanah air di tahun 1997. Chaos ataupun riot terjadi sebagai puncak ketidakpuasan masyarakat atas kinerja pemerintah yang tidak mampu menenangkan badai krisis ekonomi.

Hal ini jugalah yang menjelaskan betapa pentingnya stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, serta kebutuhan akan analisis dan policy ekonomi yang tepat, yang mampu membawa perekonomian ke arah yang lebih baik. Namun meski kita memahami hal tersebut, namun pandangan miring akan ketidakbecusan ekonom dalam menjaga perekonomian juga sering kali kita dengar. So, apa dan siapa yang salah dari keadaan ini?

Berdasarkan 3 event ekonomi terbesar di dunia, yaitu: Depresi Ekonomi dunia tahun 1929, Krisis Asia 1997 dan Resesi Global tahun 2007, menunjukkan bahwa ketiga permasalahan tersebut tidak sepenuhnya disebabkan karena kesalahan pandangan atau pemikiran secara ekonomi.

Pertama, di tahun 1929, depresi ekonomi disebabkan karena permasalahan politik (perang dingin) yang berimplikasi pada kebijakan perdagangan internasional negara-negara yang dipaksakan secara politis untuk melakukkan proteksi ekonomi. Keadaan ini pulalah yang mentrigger terjadinya trade policy war atau perang kebijakan proteksi yang mengakibatkan kebekuan perdagangan internasional.

Kedua, Krisis Asia tahun 1997 merupakan kombinasi yang parah antara perilaku pasar keuangan yang diluar batas serta kebijakan pemerintah yang lemah. Dalam konteks ini, behaviour masyarakat dan perusahaan yang cenderung berlebihan dalam melakukkan pinjaman atau hutang luar negri yang tidak terlindungi (unhedged foreign borrowing) menyebabkan mereka sangat terbuka dalam menghadapi shock atau tekanan yang ada. Keyness secara sederhana mengingatkan dalam tulisannya di tahun 20an sebagai perilaku Animal Spirit yaitu perilaku yang cenderung dikuasai oleh nafsu dengan tidak memperhatikkan resiko yang mungkin terjadi.

Ketiga, Resesi Ekonomi Global tahun 2007 utamanya dipicu oleh permasalahan kebijakan ekonomi AS (Amerika Serikat) yang salah, yang menitik beratkan pada kebutuhan perang dengan mengorbankan pada defisit fiskal yang sangat besar. Apakah para ekonom AS tidak melihat titik hitam dalam perekonomian AS? Tentu saja mereka sangat memahami keadaan tersebut, dan sebagai ekonom AS pun sebenarnya tidak sepakat dengan kebijakan yang dilakukkan oleh George Bush. Namun apa yang bisa dilakukkan jika kebijakan politik yang irasional dipaksakan dan harus mengorbankan ekonomi. Hasilnya seperti yang terlihat saat ini dimana, defisit fiskal AS yang begitu besar memicu perlambatan ekonomi AS yang kemudian juga memicu perlambatan perekonomian global.

All in all, ringkasan ketiga fakta diatas menunjukkan bahwa permasalahan ekonomi yang terjadi bukan sepenuhnya disebabkan oleh ketidakbecusan seorang ekonom. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi perekonomian menuju arah yang salah, antara lain: Perilaku masyarakat yang negatif (Moral Hazzard), Pemerintahan yang lemah serta Kebijakan Politik yang dipaksakan.

Namun disisi lain, masyarakat bisa saja menjudge ketidakbecusan ini sebagai koreksi yang positif bagi ekonom sebagai bahan introspeksi diri. Artinya seorang ekonom harus bertanya pada dirinya sendiri, Apakah para ekonom yang bekerja sebagai pengajar (dosen) telah benar-benar mengupdate ilmunya dan memahami secara benar ilmu dan realitas ekonomi? Apakah para peneliti ekonomi telah secara benar-benar melakukkan penelitiannya baik di tingkat pengembangan teori, pengumpulan data, analisis data dan pengambilan kebijakan? Apakah para ekonom telah secara murni menyampaikan gagasannya? Apakah para policy maker sudah benar-benar mempertimbangkan cost-benefit kebijakannya bagi kehidupan sosial, ekonomi dan politik masyarakat? Pertanyaan inilah yang seharusnya mereka sadari dan fahami bagi perbaikkan kinerja profesinya sebagai ekonom.

MASALAH JURUSAN  DI SKALA MIKRO

Salah satu masalah terbesar yang kini dihadapi dan masih belum ada jalan keluar yang riil adalah kesadaran untuk menghargai sebuah “kompetensi keilmuan”. Contoh nyata dari masalah ini adalah masih banyaknya para banker (Bankir) yang tidak memiliki background ekonomi yang baik, selain itu juga tidak banyak perusahaan domestik yang memperkerjakan tenaga kerja sesuai dengan bidangnya. Bahkan ada pandangan yang meyakini jika seseorang ahli atau pandai berhitung (matematika) sudah pasti dia pandai disegala hal. Hal inilah yang kadang menjadi salah kaprah, baik di tingkat yang paling rendah yaitu perekrutan tenaga kerja hingga penciptaan industri-industri yang lemah karena tidak diurus oleh ahlinya.

Pemahaman masyarakat yang rendah atas kompetensi keilmuan Jurusan Ekonomi Pembangunan sedikit banyak menimbulkan kesalahan dalam mengintepretasikan fungsi sebuah ilmu ekonomi dalam aktivitas ekonomi. Inilah merupakan tanggung jawab bersama para stakeholder school of economics untuk kembali mensosialisasikan dan menunjukkan eksistensinya dalam kehidupan masyarakat.

THINKING LIKE AN ECONOMIST

Perkembangan analisis ekonomi baik di media massa dan media elektronik telah memberikkan warna tersendiri dalam pengembangan edukasi masyarakat atas suatu fenomena ekonomi dan permasalahannya. Hal ini jugalah yang telah mendorong peradaban masyarakat yang sudah semakin maju dan kritis dalam memahami dan merespon kebijakan ekonomi pemerintah. Dalam bahasa text book alasan utama mempelajari ekonomi adalah “to learn a way of thinking”, yaitu model berfikirnya seorang ekonom yang memiliki 3 konsep fundamental dalam beranalisis, yaitu: Oppurtunity cost, Marginalism dan Efficient Market. (Lihat secara lengkap di Buku Pengantar Ekonomi Karangan Case and Fair).

Jika kita mau memahami 3 konsep sederhana tersebut, tentu hal tersebut akan sangat bermanfaat dalam menganalisis kondisi apapun dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan jika kita menggunakannya secara arif dalam konteks yang lebih luas, bisnis misalnya, tentu akan memberikkan keuntungan.

Contoh yang sederhana dari Efficient Market misalnya, konsep ini menjelaskan bahwa keuntungan atau profit dalam suatu perekonomian akan sangat cepat hilang. Karena kecenderungan masyarakat berusaha untuk mencari keuntungan yang menjanjikkan. Sehingga jangan heran jika ada penjual bakso bakar yang laris misalnya, maka akan muncul para penjual bakso bakar lainnya yang ingin menchallenge dan mencoba peruntungan. Oleh karena itu konsep ini mensuggest kita untuk selalu berfikir dan bertindak inovatif dan kreatif, agar bisnis atau hal yang kita lakukkan tidak mudah diikuti dan mempunyai kekhasan yang berbeda dengan lainnya. Konsep ini juga memiliki motto yang popular, yaitu: “No Free Lunch…” atau tidak ada makan siang yang gratis. Meski secara kasat mata anda dibayari oleh partner atau teman anda. Selalu saja ada benih-benih tendensi dari teman atau partner anda jika mereka melakukkan hal tersebut. Meski mungkin konsep ini juga harus direvisi, bahwa tendensi orang berbuat baik bisa jadi tidak berhubungan dengan dunia jika mainstream yang digunakan berbasis religi seperti sharia economics. Namun inilah …way of thinking yang harus selalu kita fahami.

Memahami bagaimana seorang ekonom berfikir juga dapat dipelajari dari apa yang dipaparkan oleh Gregory Mankiw dan Jeffrey Sachs. Pertama, Mankiw menjelaskan bagaimana seorang Ekonom berpikir ala detektif. Kedua pandangan Jeffrey Sachs yang memandang masalah ekonomi dengan pendekatan Clinical Economics.

Dalam pandangan Mankiw, ekonom memiliki pendekatan yang hampir sama sebelum menarik kesimpulan. Mereka memulai pekerjaannya dengan membangun teori, kemudian mencari fakta (data), mencocokkan teori yang dibangun dengan fakta (data) dilapangan yang selanjutnya diikuti dengan pengambilan keputusan.

Selanjutnya, dalam pendekatan Clinical Economics, seorang ekonom layaknya dokter diharapkan dapat memahami gejala-gejala yang timbul dari suatu penyakit, yang dari sinilah baru kemudian seorang dokter dapat mengambil tindakan atau treatment yang tepat bagi proses penyembuhan. Dalam proses ini seorang dokter atau ekonom diharapkan memahami bagaimana jalur transportasi darah (uang) dan pentingnya dalam menunjang fungsi organ lainnya (aktivitas perekonomian). Oleh karena itu para dokter atau ekonom membutuhkan gambaran yang jelas dari bagian seluruh organ (data ekonomi) untuk dapat mengambil kesimpulan yang tepat.

ALL IN ALL

Terakhir, pengembangan ilmu ekonomi diharapkan dapat terus bermanfaat demi eksistensinya dalam mendorong aktivitas dan pembangunan ekonomi yang lebih maju. Hal ini tentu sangat diharapkan demi tercapainya kesejahteraan masyarakat yang lebih baik. Di sisi lain, mahasiswa ekonomi saat ini juga dituntut untuk menghargai ilmu yang digelutinya dengan baik. Hal ini ditujukkan agar mereka semakin yakin dan haus akan penimbaan ilmu yang lebih dalam. Semoga hal ini dapat memberikkan impulse yang besar bagi kemajuan dan peradaban ekonomi yang lebih baik, serta pemahaman yang baik akan kompetensi sebuah ilmu ekonomi.

 

 

 

 

 

 

No responses yet

Aug 02 2009

New Keynesian Economics

Published by Dias Satria under Important Resources

New Keynesian Economics (Bagian I)

New Keynesian economics merupakan school of thought dalam ekonomi makro modern yang berkembang dari ide John Maynard Keynes. Keynes menulis buku  The Theory of Employment, Interest, and Money tahun 1930an, dan pengaruh pemikirannya sangat kuat di kalangan akademisi dan pembuat kebijakan sampai dengan tahun 1960. Namun demikian pada tahun 1970-an, ekonom New Classical seperti Robert Lucas, Thomas J. Sargent, dan Robert Barro mempertanyakan pemikiran dari revolusi Keynesian. Label “New Keynesian”  mengambarkan para ekonom (pada tahun 1980-an) yang merespon dari kritik new classical dengan melakukan penyesuaian aliran original  Keynesian.

Pokok ketidaksepakatan antara ekonom new classical dan new Keynesian adalah seberapa cepat wages dan price melakukan penyesuaian. Para ekonom new classical membangun teori ekonomi makro dengan mengasumsikan bahwa wages dan price adalah fleksibel. Mereka percaya bahwa pada pasar terjadi “market clearing” –keseimbangan supply dan demand- dengan penyesuaian harga yang dengan cepat. Para ekonom New Keynesian percaya bahwa model “market clearing” tidak dapat menjelaskan fluktuasi ekonomi dalam jangka pendek, dan mereka menawarkan model dengan “sticky” wages dan prices. Teori new Keynesian mengacu pada stickiness of wages and prices untuk menjelaskan mengapa terjadi adanya involuntary unemployment dan mengapa kebijakan moneter mempunyai pengaruh yang kuat aktivitas ekonomi.

Tradisi yang panjang dalam ekonomi makro (termasuk kedua perspektif Keynesian dan monetarist) menekankan bahwa kebijakan moneter akan mempengaruhi orang bekerja dan produksi dalam jangka pendek, sebab harga akan merepon sluggishly adanya perubahan dalam money supply. Menurut pandangan ini, jika money supply menurun, orang-orang akan mengurangi pembelanjaan uang dan permintaan barang akan menurun. Karena harga dan upah adalah inflexible dan tidak segera menurun, maka penurunan pengeluaran masyarakat akan  menyebabkan penurunan penurunan produksi dan layoffs pekerja. Ekonom New Classical mengkritisi tardisi isi sebab penjelasan teoritis tentang perilaku penyesuaian harga dan upah yang lambat kurang masuk akal. Banyak penelitian New Keynesian berupaya untuk mengatasi kekurangan ini.

Menu Costs and Aggregate-Demand Externalities

Salah satu alasan harga tidak segera menyesuaikan untuk market-clearing yaitu penyesuaian harga membutuhkan biaya  mahal. Untuk merubah harga, sebuah perusahaan mungkin perlu mengirimkan katalog baru kepada pelanggan, mendistribusikan daftar harga baru kepada  staf penjualan, atau, dalam hal restoran, mencetak menu baru. Biaya dari penyesuaian harga ini, dinamakan “menu cost” menyebabkan perusahaan untuk menyesuaikan harga periode tertent daripada terus-menerus.

Para ekonom tidak setuju mengenai apakah menu cost dapat membantu menjelaskan fluktuasi ekonomi dalam jangka pendek. Sikap skeptis ditunjukkan bahwa menu cost biasanya sangat kecil. Mereka menyatakan bahwa biaya yang “kecil” ini tidak mungkin untuk membantu menjelaskan resesi, yang sangat mahal bagi masyarakat. Para pendukung memberikan alasan bahwa “kecil” tidak berarti “ngawur”. Walaupun menu biaya kecil untuk setiap perusahaan, mereka dapat memiliki dampak besar pada perekonomian secara keseluruhan.

Para pendukung dari menu-cost hipothesis menggambarkan situasi sebagai berikut. Untuk memahami mengapa harga menyesuaikan secara perlahan, satu hal harus mengakui bahwa ada perubahan harga eksternalitas-yaitu, efek dibalik hubungan perusahaan dan pelanggan. Misalnya, penurunan harga oleh satu perusahaan akan memberikan keuntungan perusahaan lainnya dalam suatu perekonomian. Ketika sebuah perusahaan menetapka penurunan harga, dan harga tersebut sedikit lebih rendah dari tingkat harga rata-rata dan dengan demikian akan meningkatkan pendapatan riil. Stimulus dari pendapatan riil yang lebih tinggi, pada gilirannya, meningkatkan permintaan untuk produk-produk dari semua perusahaan. Dampak makroekonomi dari penyesuaian harga satu perusahaan mengakibatkan pada permintaan produk-produk semua perusahaan (disebut “aggregate demand externality”).

Adanya aggregate-demand externality, Menu cost dapat membuat price sticky, dan stikines ini dapat membuat biaya yang besar bagi masyarakat.. Misalnya suatu pabrik mobil (X)  mengumumkan harga-nya dan kemudian, setelah adanya penurunan money supply, perusahaan tersebut harus memutuskan apakah akan menurunkan harga. Jika terjadi demikian, pembeli mobil akan memiliki pendapatan rill yang lebih besar dan oleh karena itu akan membeli produk dari perusahaan lain juga. Tetapi manfaat kepada perusahaan lain tidak menjadi perhatian pabrik mobil (X) tersebut. Karena itu, Pabrik Mobil (X) kadang-kadang gagal untuk membayar menu cost dan menurunkan harganya, walaupun penurunan harga itu keinginan masyarakat. Ini adalah contoh dari sticky price yang tidak dikehendaki untuk perekonomian secara keseluruhan, walaupun itu mungkin akan optimal bagi mereka yang menetapkan harga.

New Keynesian Economic (Bagian II)

The Staggering of Prices

Penjelasan New Keynesian tentang sticky prices sering menekankan bahwa tidak semua orang dalam perekonomian menentukan harga pada saat yang sama. Namun, penyesuaian harga sepanjang siklus perekonomian adalah staggered. Proses staggering menyulitkan untuk menetapkan suatu harga oleh karena perusahaan sangat memperhatikan harga produknya dibandingkan dengan perusahaan lain. Proses staggering dapat membuat keselurahan tingkat harga melakukan penyesuaian secara perlahan-lahan, meskupun ketika harga secara individual sering berubah.

Proses penyesuai harga dapat diilustrasikan sebagai berikut. Misalnya, pertama, penetapkan harga yang  disinkronisasikan: setiap perusahaan menyesuaikan harganya pada setiap bulan. Jika suplai uang beredar menigkat dan permintaan agregat meningkat pada 10 Mei, maka output akan lebih tinggi dari 10 Mei ke 1 Juni, karena harga adalah fixed selama interval ini. Namun demikian, pada 1 Juni, semua perusahaan akan menaikkan harga mereka untuk merespon permintaan agregat yang tinggi, yaitu  boom pada tiga minggu terakhir.

Apabila, sekarang dimisalkan penetapan harga adalah staggered: sebagian perusahaan menetapkan harga pada setiap awal bulan dan sebagian lagi pada  hari ke limabelas. Jika suplai uang beredar meningkat pada 10 Mei, maka sebagaian perusahaan-perusahaan dapat menaikkan harga pada 15 Mei dan sebagaian perusahaan-perusahaan lainya tidak akan mengubah harga pada hari kelimabelas. Perbedaan harga relatif ini, akan mengakibatkan sebahagian perusahaan akan kehilangan customers. Oleh sebab itu, sebagian perusahaan yang merubah harga mungkin dengan menaikan harganya tidak banyak. (Ini kontras, jika semua perusahaan melakukan sinkronisasi harga, sehingga tidak berpengaruh pada harga relative). Jika perusahaan yang merubah harga pada 15 Mei dengan penyesuaian harga sedikit, maka pada gilirannya perusahaan lain akan melakukan penyesuaian sedikit juga pada 1 Juni, karena mereka juga ingin menghindari perubahan harga relatif. Tingkat harga akan meningkat secara perlahan sebagai hasil dari kenaikan harga kecil pada awal dan hari kelimabelas setiap bulannya. Oleh karena itu, proses staggering membuat tingkat harga berubah lambat, karena tidak ada perusahaan berkeinginan untuk menjadi yang pertama dalam kenaikan harga yang besar.

Bersambung……

Sumber:

  • Mankiw, N. Gregory, and David Romer, eds. New Keynesian Economics. 2 vols. Cambridge: MIT Press, 1991.
  • N. Gregory Mankiw is a professor of economics at Harvard University. (http://gregmankiw.blogspot.com/).
  • Clarida, Richard, Jordi Gali, and Mark Gertler. “The Science of Monetary Policy: A New Keynesian Perspective.” Journal of Economic Literature 37 (1999): 1661–1707.
  • Goodfriend, Marvin, and Robert King. “The New Neoclassical Synthesis and the Role of Monetary Policy.” In Ben S. Bernanke and Julio Rotemberg, eds., NBER Macroeconomics Annual 1997. Cambridge: MIT Press, 1997. Pp. 231–283.

http://mhs.blog.ui.ac.id/sanj55/2009/05/05/new-keynesian-economic-bagian-ii/

No responses yet

Next »