Archive for December, 2009

Dec 28 2009

Bank puas, masyarakat lemas, & BI jangan pulas

Published by Dias Satria under Important Resources

Bank puas, masyarakat lemas, & BI jangan pulas
oleh : Martin P.H. Panggabean
Sekarang ini adalah saatnya Anda dihujani dengan berbagai proyeksi dan prediksi tentang 2010. Tiada hari tanpa prediksi, mulai dari yang ilmiah (memakai hitungan dan ilmu), semiilmiah (hanya memakai perasaan plus intuisi ilmu), sampai yang tidak ilmiah (ngelmu, begitu kata orang Jawa).
Kalau anda termasuk yang bosan dan muak dengan berbagai prediksi ini, yang kadang datang tidak diundang (dan barangkali pulang tidak diantar, seperti jelangkung), maka sebetulnya kini adalah saat anda balas dendam. Anda cukup membuka arsip media cetak tahun lalu dan membandingkan prediksi tahun lalu dengan kenyataannya.
Saya kurang mengerti mengapa media massa tidak pernah menurunkan tulisan untuk topik ini. Mungkin budaya ewuh pakewuh masyarakat timur yang terlalu mendominasi. Andai saja dilakukan evaluasi prediksi, pasti para pakar semakin berhati-hati dan semakin sedikit pula prediksi ngawur yang Anda dengar.
Walau demikian, ada beberapa prediksi dan perkiraan yang wajib Anda dengar. Salah satunya adalah prediksi dari institusi pemerintah. Estimasi pemerintah jauh lebih penting dan amat diperhatikan oleh pasar. Berbeda dengan prediksi dari lembaga-individu nonpemerintah yang bobot dan dampaknya lebih kecil.
Salah satu institusi lain yang gaung proyeksinya diperhatikan adalah Bank Indonesia. Termasuk pendapatnya untuk kasus pertumbuhan kredit. Cuma memang untuk kasus pertumbuhan kredit, kadang BI terlihat pesimistis (seperti pada 2008 ketika ternyata kredit bertumbuh di atas 30%, padahal perkiraan awalnya hanya sekitar 25%).
Untuk 2010, Bank Indonesia memasang target 15%-20%. Walaupun kemudian banyak analis berpendapat berbeda, tetapi saya ingin mengajak kita tidak terjebak kepada angka semata. Menurut hemat saya, ada aspek di balik angka tersebut yang jauh lebih perlu kita perhatikan.
Kita mulai dengan membedah angka pertumbuhan kredit saat ini. Untuk 2009 ini, Bank Indonesia sebaliknya (dibandingkan dengan 2008) terlalu optimistis karena pada awalnya mengestimasi pertumbuhan kredit diatas 20%.
Padahal, angka untuk terakhir (Oktober) menunjukkan angka pertumbuhan total kredit cuma 10.5%. Dengan waktu tersisa cuma 2 bulan, rasanya akan sangat sulit bagi kita untuk mengharapkan pertumbuhan 20% akan dapat tercapai.
Dengan melihat perilaku bank pada masa lalu, maka angka akhir pertumbuhan kredit akhir tahun ini memang bisa digenjot melalui berbagai usaha window-dressing. Dan memang ada insentif bagi individu didalam internal bank sendiri untuk melakukan window-dressing.
Pertama, terutama untuk bank, angka bulan Desember akan tercatat di dalam neraca terpublikasi. Angka ini akan menjadi acuan bagi para analis untuk melakukan valuasi harga saham yang wajar. Jadi usaha untuk mendongkrak pembukuan kredit jelas menjadi acara akhir tahun yang penting.
Kedua, bagi individu dalam bank, membukukan kredit pada akhir tahun adalah usaha terakhir untuk mempertahankan prestasi individu tersebut di tengah persaingan yang ketat. Beberapa bank sudah mulai menilai prestasi eksekutifnya (dan bonus) tidak lagi dari nilai pembukuan pada akhir tahun (yang sarat dengan window dressing), tetapi menilainya dari rata-rata pertumbuhan pembukuan kredit selama setahun. Namun belum semua bank melakukan hal yang baik ini.
Kesemuanya ini sebenarnya bermuara pada suatu kesimpulan bahwa pertumbuhan kredit bank pada 2009 ini sebetulnya tidaklah berjalan optimal. Manfaat apa yang dapat diraih oleh ekonomi Indonesia dengan pertumbuhan kredit yang nyaris single-digit seperti ini? Nyaris tidak ada.
Kalau kita membedah angka pertumbuhan kredit, kekhawatiran akan nasib kualitas pertumbuhan ekonomi menjadi semakin relevan. Coba lihat betapa kencangnya angka pertumbuhan kredit konsumsi.
Satu-dua tahun yang lalu, pangsa kredit modal kerja sekitar 60%, sementara kredit konsumsi dan kredit investasi masih seimbang sekitar 20%. Kini, angka pangsa KMK cuma tinggal 50%, kredit konsumsi sudah nyaris berlipat dua dengan pangsa 37% dari total kredit.
Pertumbuhan ekonomi berkualitas seperti apa yang kita harapkan ketika saat ekonomi krisis perbankan kita malah sibuk memperhatikan high-yield segment yang hanya memeras tabungan konsumen.
Alih-alih mengajak mereka menabung, perbankan malah sibuk mengajak masyarakat untuk rajin berutang. All in the name of high-yield margin and profits of individual banks, sungguh mengenaskan dan neolib.
Itu dari perspektif agregat perbankan. Kalau kita membedah satu lapis lebih dalam, terlihat bahwa penyebab lambannya pertumbuhan kredit nasional adalah pada bank swasta nasional dan bank asing. Dari 10% pertumbuhan kredit, kontribusi bank asing dan swasta nasional (yang notabene sudah dikuasai asing) cuma sekitar 3 percentage points. Angka kontribusi yang kecil sekali padahal pangsa mereka sudah sekitar 50% dari total pasar.
Kalau Anda lihat kontribusi perbankan asing dan swasta nasional yang sudah dikuasai asing, mereka sama sekali tidak berkontribusi dalam pemberian kredit investasi (sekitar 0%) dan malah menurunkan kredit modal kerja (minus 10% dibanding tahun lalu).
Namun, begitu kita berbicara tentang margin yang besar di kredit konsumsi, maka pertumbuhan kedua jenis bank ini melesat jauh meninggalkan bank-bank lain (mendekati angka 30%). Dalam jangka waktu yang lama (paling tidak 10 tahun terakhir ini) perbankan asing dan swasta nasional asing ini dapat mematok bunga yang relatif flat (nyaris tidak berubah dari tahun ke tahun) dan mendapatkan margin bunga 30% di atas SBI.
Artinya, semakin SBI turun, semakin besar keuntungan yang mereka dapatkan.
Jangan heran bahwa kondisi margin yang terlalu besar ini kemudian membuat perbankan lainnya akan ikut-ikutan berpindah ke sektor kredit konsumsi yang high-yield ini. Kalau tidak ada langkah-langkah tegas dari Bank Indonesia, dapat dipastikan bahwa pertumbuhan keuntungan perbankan akan semakin baik pada 2010, tetapi berdampak buruk pada kualitas pertumbuhan nasional.
Pertumbuhan kredit yang lambat pada 2009 ternyata tidak terlalu berdampak pada keuntungan perbankan. Pada 2010 ketika pertumbuhan kredit membaik, perbankan terlihat sibuk masuk ke sektor kredit konsumsi, dampaknya kontribusi perbankan ke pertumbuhan dan kualitas ekonomi nasional semakin memprihatinkan.
Perlu pembatasan
Ekonomi yang didorong konsumsi bukanlah hal yang membanggakan. Sudah tiba saatnya Bank Indonesia membatasi (capping) suku bunga kredit di sektor konsumsi. Saya selalu setuju pada pengaturan.
Capping suku bunga bukanlah barang asing di banyak negara maju. Tidak ada alasan bagi kita untuk terus membiarkan price gouging terus berlangsung. Kalau free market menyebabkan perilaku menyimpang ini terus terjadi, maka sudah saatnya market imperfection ini diperbaiki. Saya yakin akan hal yang satu ini.
Selain itu, semenjak awal Bank Indonesia harus lebih tegas dalam melihat rencana bisnis setiap individu bank untuk 2010 ini. Ekspansi yang berlebihan dan tidak seimbang di sektor konsumsi harus dibatasi. Ini akan terlihat dari rencana bisnis 2010. Setiap rencana bisnis yang tidak seimbang harus diperbaiki oleh bank. Mereka harus masuk ke sektor riil, titik.
Bukan hanya itu, pengawas bank juga harus lebih ‘galak’ dan tegas untuk mendeteksi dan memperbaiki deviasi realisasi dari rencana bisnis.
Tindakan korektif ini tidak bisa menunggu sampai paruh kedua 2010. Namun harus dilaksanakan setiap kuartal. Ada dua pihak dalam Bank Indonesia yang berperan: pengawas dan Dewan Gubernur.
Pascameledaknya kasus Bank Century, Bank Indonesia menjadi salah satu pihak yang mendapat kritik tajam karena pengawasannya yang dianggap terlalu lunak. Maka pengawasan oleh BI harus diberi kesempatan kali ini untuk untuk berperan lebih tegas dan keras demi mencapai pertumbuhan kredit yang kredit yang berkualitas.
Di pihak lain, Dewan Gubernur tampak sudah bergerak ke arah yang sama dengan beberapa imbauannya kepada bank tentang penyaluran kredit serta pembatasan marjin suku bunga.
Namun beberapa hal perlu menjadi catatan. Pertama, harus dipastikan agar kebijakan yang diambil tersebut datang dengan satu suara dari dalam BI sendiri. Kedua, dari suara-suara nyinyir yang terdengar, tampaknya tidak seluruh elemen perbankan mendukung hal ini. Ketiga, belum terlihat kebijakan BI yang jelas tentang kredit konsumsi baik dari sudut penyaluran kredit yang tidak seimbang maupun dari margin bunga yang luar biasa lebar.
Bagi BI dan pemerintah, pertaruhannya sebetulnya bukan hanya pada isu ekualitas pertumbuhan ekonomi. Tetapi kelak bisa berkembang menjadi isu politis tentang mengapa kita waktu itu pernah mengundang bank asing ke Indonesia tanpa manfaat yang berarti.
Tanpa perubahan sikap, BI dan pemerintah akan terus berjalan semakin jauh memasuki ranah politik sentimen nasionalisme yang kemudian bisa semakin tajam dan tidak terkendali. Suara-suara ini sudah semakin keras terdengar belakangan ini. Rasanya kita bisa (dan harus) banyak berharap akan adanya tindakan korektif dari BI. Segera.
Oleh Martin P.H. Panggabean
Ekonom Independen, bekerja di Bank Mandiri
http://web.bisnis.com/artikel/2id2708.html

No responses yet

Dec 21 2009

TUGAS AKHIR MAKROEKONOMI II

Published by Dias Satria under Makroekonomi

UJIAN AKHIR SEMESTER
MATA KULIAH MAKROEKONOMI II
Dias Satria SE.,M.App.Ec

120 Menit

1.    JELASKAN TENTANG MODEL IS-LM (50 point)
•    Persamaan model matematika keseimbangan di pasar uang (LM)?
•    Persamaan model matematika keseimbangan di pasar barang (IS)?
•    Slope kurva IS (Pasar Barang)
•    Slope Kurva LM (Pasar Uang)
•    Pergeseran kurva IS (Pasar Barang)
•    Pergeseran kurva LM (Pasar Uang)
•    Keseimbangan didalam Permintaan Agregat (AD) dan Penawaran Agregat (AS)?
•    Efektivitas Kebijakan Moneter

2.    JELASKAN TENTANG OUTLOOK ECONOMY DAN KEBIJAKAN MAKROEKONOMI YANG DAPAT DIAMBIL? (50 point)
•    Bagaiamana outlook perekonomian Indonesia di tahun 2010?
•    Bagaimana outlook perekonomian Dunia di tahun 2010?
•    Bagaimana kebijakan makroekonomi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan kondisi makro yang stabil?

Kerjakan soal-soal diatas di selembar kertas A4, dikumpulkan pada ketua kelas paling lambat hari rabu minggu ini.

Regards

Dias Satria

No responses yet

Dec 21 2009

TUGAS AKHIR EKONOMI MONETER

Published by Dias Satria under Ekonomi Moneter

UJIAN AKHIR SEMESTER (DUMMY)
MATA KULIAH EKONOMI MONETER
Dias Satria SE.,M.App.Ec

120 Menit

1.    Jika tingkat harga di Jepang meningkat 5% secara relatif terhadap tingkat harga di Amerika Serikat, berdasarkan teori Power Purchasing Parity, prediksikan apa yang akan terjadi terhadap nilai mata uang yen terhadap US Dollar? (15 point)
2.    Jika Bank Indonesia mencetak uang untuk mengurangi pengangguran, apa yang akan terjadi terhadap nilai mata uang rupiah dalam jangka pendek dan jangka panjang? (15 point)
3.    Jika ekspektasi inflasi menurun sehingga menyebabkan tingkat bunga turun, prediksikan apa yang akan terjadi terhadap nilai tukar domestik terhadap luar negri? (15 point)
4.    Bagaimana Neraca keseimbangan yang surplus (Balance of Payment Surplus) dapat berkontribusi terhadap inflasi yang meningkat? (15 point)
5.    Jelaskan kerangka kebijakan Moneter Inflation Targeting? (20 Point)
6.    Jelaskan bagaimana pengaruh kebijakan moneter “Open Market Operation” Penjualan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) terhadap keseimbangan di Pasar Uang dan Pasar Barang (IS-LM) serta terhadap AS (Aggregate Supply) dan AD (Aggregate Demand)? (20 Point)

Kerjakan soal- soal diatas di selembar kertas A4, dikumpulkan pada ketua kelas paling lambat hari rabu minggu ini.

Regards

Dias Satria

No responses yet

Dec 21 2009

TUGAS AKHIR EKONOMI UANG DAN BANK

Published by Dias Satria under Important Resources

UJIAN AKHIR SEMESTER (DUMMY)
MATA KULIAH EKONOMI UANG DAN BANK
Dias Satria SE.,M.App.Ec

120 Menit

1.    Jelaskan mekanisme transmisi kebijakan moneter melalui transmisi “Bank Channel”? Jelaskan kasus di Indonesia tentang lambatnya respon penurunan suku bunga kredit Bank Umum atas penurunan SBI (Sertifikat Bank Indonesia) oleh Bank Indonesia.
2.    Jelaskan dampak sistemik yang dimaksudkan oleh Policy Maker (Pemerintah dan Bank Indonesia) ketika Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) memutuskan untuk memBailOut Bank Century dengan dana talangan 6.7Triliun?
3.    Jelaskan tentang kerangka (Frame work) kebijakan moneter IT (Inflation Targeting)?
4.    Jelaskan tentang krisis di Asia pada tahun 1997 dan bandingkan dengan krisis yang di alami Amerika Serikat di tahun 2000an.

Kerjakan empat soal diatas di selembar kertas A4, dikumpulkan pada ketua kelas paling lambat hari rabu minggu ini.

Regards

Dias Satria

No responses yet

Dec 21 2009

Exercise Economy of Indonesia

Published by Dias Satria under Perekonomian Indonesia

DUMMY FINAL EXAM

ECONOMY OF INDONESIA

Dias Satria SE.,M.App.Ec

120 Minutes

1. What is the origin of the United States Crisis?

2. Why Asian economies could fall into the crisis in the late 1990’s?

3. Explain the positive and negative impacts of the Multi National Corporation (MNC) to the local economy? What can government do to tackle the problems of MNC?

4. What strategies needed for the Small and Medium Enterprise (SME) to gain in the global competition?

5. What policies needed for the poor countries to gain in the global trade?

6. Tell what you think about “white collar crime”?

7. What do you think about Indonesia in 2010? (in economic perspective)

8. Do you think that the “6.7 Trillion” for the Century Bank is the right policy?

9. What you can do as a “Manager” to prepare your business in ASEAN FREE TRADE competition?

Please do this exercise to prepare for the final exam. Submit it by Astri lately on Wednesday this week.

Write it on A4 paper.

Regards

Dias Satria

No responses yet

Dec 06 2009

Tinjauan Kebijakan Moneter Trx IV 2009 BI

Published by Dias Satria under Important Resources

source : http://www.bi.go.id/web/id/Publikasi/Kebijakan+Moneter/Tinjauan+Kebijakan+Moneter/LKM_trw409.htm

Tinjauan Umum

Perekonomian Indonesia di tahun 2009 menunjukkan daya tahan yang cukup kuat di tengah krisis ekonomi global. Hal ini tercermin oleh tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sampai dengan triwulan III-2009 masih mampu tumbuh di atas 4%. Dan untuk keseluruhan tahun 2009, Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia dapat tumbuh sebesar 4,3%. Ke depan, untuk tahun 2010 dan 2011, perekonomian Indonesia diperkirakan akan tumbuh lebih tinggi sejalan dengan tingkat pemulihan perekonomian dunia yang lebih baik, semakin kondusifnya pasar keuangan dan perbankan yang dibarengi dengan terjaganya kondisi fundamental domestik. Perekonomian Indonesia di tahun 2010 diperkirakan akan tumbuh mencapai kisaran 5,0-5,5% dan pada tahun 2011 menjadi 6,0-6,5%.

Di sisi perekonomian global, Bank Indonesia memandang bahwa proses pemulihan ekonomi global masih terus berlanjut. Pemulihan tersebut bahkan dirasakan semakin kuat dan merata terjadi di berbagai negara dan sektor ekonomi. Berbagai kebijakan yang ditempuh oleh otoritas fiskal dan moneter selama tahun 2009 telah mampu menahan kejatuhan perekonomian dunia yang lebih dalam. Tanda-tanda pemulihan kondisi perekonomian menguat mulai dirasakan sejak triwulan II-2009. Motor penggerak perekonomian dunia untuk dapat terus bertumbuh di tengah krisis adalah perekonomian di kawasan Asia, seperti China, Korea, dan India. Dampak positif membaiknya kinerja ekonomi negara-negara tersebut dirasakan oleh negara lain di kawasan, termasuk Indonesia, melalui meningkatnya permintaan barang-barang ekspor. Lebih lanjut, paket stimulus yang diluncurkan pemerintah di negara maju yang disertai dengan membaiknya sumber pembiayaan dari perbankan dan tingkat keyakinan konsumen, mendukung perbaikan konsumsi sejak paruh kedua tahun 2009. Meski demikian, proses pemulihan ekonomi global masih dibayangi oleh berbagai faktor risiko. Beberapa risiko tersebut diantaranya berkaitan dengan masih tingginya tingkat pengangguran serta realisasi defisit fiskal di Amerika Serikat yang cukup tinggi sehingga menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar terkait dengan kesinambungan operasi keuangan AS.

Perbaikan pada perekonomian global juga masih tercermin pada pasar keuangan global yang  menunjukkan perkembangan positif. Meski di awal tahun intensitas tekanan di pasar keuangan global masih tinggi, di akhir tahun 2009 tekanan tersebut mulai mereda. Hal ini didukung oleh optimisme terkait terus berlangsungnya pemulihan ekonomi global dan membaiknya kinerja lembaga keuangan di negara maju. Berbagai perkembangan tersebut telah menumbuhkan persepsi positif sehingga mendorong kenaikan harga aset di pasar keuangan global sejak triwulan II-2009. Optimisme terhadap kondisi ekonomi global tersebut mendorong kinerja pasar keuangan dunia yang semakin baik. Indeks harga di pasar saham global meningkat, sementara persepsi risiko terhadap aset pasar keuangan, baik di negara maju maupun emerging markets, juga membaik sebagaimana tercermin pada credit default swaps  (CDS) yang menurun.

Berbagai dinamika perekonomian global selama tahun 2009 telah memberikan warna pada perkembangan ekonomi Indonesia. Pemulihan yang terjadi di perekonomian global, bangkitnya ekonomi China dan India, serta kebijakan makroekonomi yang berhati-hati di dalam negeri telah memberi dampak positif pada perekonomian Indonesia. Di wilayah kawasan, Indonesia merupakan negara yang menjadi “flavour of the day” karena daya tahan perekonomiannya sepanjang tahun 2009 di tengah-tengah krisis global. Tumbuhnya perekonomian Indonesia tersebut terutama didukung oleh kuatnya permintaan domestik. Ekspansi ekonomi domestik pada periode tersebut lebih didukung oleh pengeluaran konsumsi akibat tingginya pengeluaran terkait penyelenggaraan Pemilu, rendahnya inflasi, serta berbagai stimulus fiskal untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan pengurangan pajak. Sementara itu, seiring dengan proses pemulihan ekonomi dunia yang terus berlanjut dan semakin merata, serta harga komoditas global yang meningkat, kinerja ekspor Indonesia menunjukkan perbaikan. Dengan berbagai perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi untuk keseluruhan 2009 diprakirakan mencapai 4,3%.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membaik selama tahun 2009 tersebut juga terkonfirmasi oleh hasil asesmen perekonomian daerah yang dilakukan Bank Indonesia. Secara umum, perekonomian daerah selama tahun 2009 masih  menunjukkan kuatnya konsumsi dan ekspor sejalan meningkatnya permintaan produk primer dari China, India dan Korea Selatan. Peningkatan ekspor dari wilayah Sumatera dan Kali-Sulampua (Kalimantan-Sulawesi-Maluku-Papua) terutama berasal dari komoditas karet, nikel, batubara dan CPO. Membaiknya ekonomi daerah tersebut juga tidak terlepas dari masih kuatnya konsumsi domestik terutama di Jabalnustra, Jakarta dan mulai pulihnya aktivitas ekspor, khususnya untuk komoditas perkebunan dan pertambangan dari Kali-Sulampua dan Sumatera, seiring dengan pulihnya ekonomi dunia. Sementara itu, realisasi stimulus fiskal telah mencapai 36,2% dan realisasi belanja modal APBD di Kali-Sulampua dan Jakarta, atau meningkat dibandingkan periode yang sama tahun 2008. Hal ini memberi sedikit dampak pada membaiknya pertumbuhan investasi di daerah, meski masih minimal. Di sisi lain, masih kuatnya konsumsi domestik dan membaiknya ekspor komoditas primer telah direspons oleh meningkatnya aktivitas sektor utama di daerah, yaitu pertanian di Jabalnustra dan Sumatera, pertambangan di Kali-Sulampua serta sektor tersier di Jabalnustra dan Jakarta. Selama tahun 2009, meskipun menghadapi terpaan krisis global, kombinasi ekonomi antara daerah yang berorientasi domestik di Jabalnustra dan Jakarta serta daerah yang berorientasi ekspor di Sumatera dan Kali-Sulampua telah mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional daerah pada level yang lebih baik.
Di sisi harga, perekonomian Indonesia di tahun 2009 ditandai oleh tekanan inflasi yang rendah. Inflasi November tercatat sebesar -0,03% (mtm), atau menurun dibandingkan bulan sebelumnya (0,19%). Deflasi pada bulan November terutama terkait dengan kembali terkoreksinya harga barang kebutuhan pokok. Secara tahunan inflasi IHK menurun dibandingkan bulan sebelumnya menjadi sebesar 2,41% (yoy). Dari sisi non fundamental, terjaganya pasokan domestik, lancarnya distribusi, dan harga komoditas internasional yang masih relatif rendah mendukung penurunan inflasi volatile food. Di kelompok administered prices, penurunan tekanan inflasi yang cukup tajam terkait dengan kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga bahan bakar minyak di awal tahun. Dari sisi fundamental, penurunan tekanan inflasi terkait dengan faktor eksternal, yaitu penurunan inflasi mitra dagang dan nilai tukar yang cenderung apresiasi, serta menurunnya ekspektasi inflasi masyarakat. Mencermati perkembangan tersebut, inflasi tahun 2009 berpotensi lebih rendah dari perkiraan sebelumnya sebesar 2,9% (y-o-y).

Kinerja Neraca pembayaran Indonesia (NPI) selama tahun 2009 membaik sejalan dengan perkembangan global yang kondusif. Perbaikan tersebut ditopang oleh kinerja transaksi berjalan yang membaik sejalan dengan terus menguatnya pemulihan ekonomi global. Selain itu, berlanjutnya kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia, terutama komoditas berbasis sumber daya alam, turut mendukung perbaikan transaksi berjalan. Surplus transaksi berjalan juga diprakirakan tetap meningkat di tengah meningkatnya impor nonmigas. Sementara itu, optimisme pemulihan ekonomi global, yang disertai dengan membaiknya persepsi risiko terhadap negara emerging markets diprakirakan dapat menjaga kelangsungan arus masuk modal asing. Sejalan dengan perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2009 tercatat sebesar USD 65,84 miliar atau setara dengan 6,5 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah.

Membaiknya kinerja Neraca Pembayaran Indonesia berdampak pada kestabilan nilai tukar rupiah sepanjang tahun 2009. Secara keseluruhan tahun, rupiah bergerak dengan kecenderungan menguat. Persepsi positif di kalangan investor global terhadap ekonomi domestik telah meningkatkan selera risiko (risk appetite) dari investor global terhadap aset pasar keuangan dalam negeri. Hal ini  mendorong aliran masuk modal asing terus masuk ke pasar keuangan Indonesia. Dengan kondisi tersebut, nilai tukar rupiah mulai mengalami apresiasi sejak triwulan II-2009 dan mencapai level  Rp9.445 per dolar AS pada akhir November atau menguat 15,3% (p-t-p) dari level Rp10.900 per dolar AS di akhir tahun 2008.

Di pasar keuangan domestik, berbagai perkembangan perekonomian tersebut telah memberikan dampak positif. Transmisi kebijakan moneter juga membaik yang tercermin pada respons suku bunga pasar uang dan perbankan pada BI Rate. Di pasar obligasi, transmisi kebijakan moneter tercermin pada penurunan yield SUN untuk seluruh tenornya dengan tenor jangka pendek mencatat penurunan yield yang paling besar. Meski demikian, untuk tenor jangka panjang, transmisi kebijakan masih cenderung lebih terhambat. Hal ini mengindikasikan persepsi risiko dari para investor jangka panjang yang relatif belum optimal terhadap ekspektasi inflasi dan prospek sustainabilitas fiskal.  Di pasar saham, indeks harga menunjukkan peningkatan. Kebijakan moneter Bank Indonesia yang diimbangi oleh pemulihan ekonomi global, telah meningkatkan minat asing pada aset di pasar keuangan emerging markets, serta indikator makro-mikro ekonomi domestik yang cukup kondusif mendorong kinerja IHSG untuk tumbuh lebih baik.

Di pasar uang, transmisi suku bunga di pasar uang antar bank (PUAB) semakin menunjukkan perbaikan. Suku bunga di PUAB overnight (O/N) bergerak di sekitar BI Rate seiring dengan diubahnya sasaran operasional kebijakan moneter ke PUAB O/N sejak Juli 2008. Penurunan tersebut juga diikuti oleh  suku bunga PUAB untuk tenor di atas O/N.  Transmisi BI Rate ke suku bunga deposito juga telah menunjukkan perbaikan. Sepanjang tahun 2009 suku bunga deposito 1 bulan menurun sebesar 337bps, atau lebih besar dari penurunan BI Rate sebesar 275bps. Dibandingkan dengan periode penurunan BI Rate di tahun 2006, respons suku bunga deposito terhadap penurunan BI Rate juga menunjukkan perbaikan. Di sisi suku bunga kredit,  respons penurunan BI Rate mengalami perbaikan perlahan dan secara lebih terbatas. Selama tahun 2009, suku bunga kredit secara agregat (rata-rata suku bunga KMK, KI, dan KK) menurun sebesar 76 bps. Terbatasnya respon suku bunga kredit tersebut terkait dengan berbagai faktor, antara lain seperti persepsi risiko perbankan terhadap kesinambungan sektor riil yang masih tinggi. Terbatasnya respons perbankan tersebut menyebabkan sumber pembiayaan perbankan tumbuh rendah. Hingga Oktober 2009, pertambahan kredit (termasuk channeling) baru mencatat pertumbuhan 4,2% (y-t-d), jauh lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu.

Ke depan, prospek perekonomian domestik di tahun 2009 dan tahun 2010 berpotensi lebih baik dari perkiraan semula.  Hal ini juga diperkirakan akan terus berlanjut di tahun 2011. Faktor-faktor yang mendukung perbaikan tersebut adalah kondisi eksternal yang lebih kondusif berupa  pemulihan ekonomi dunia yang lebih cepat dari perkiraan semula, serta kondisi domestik yang tetap terjaga dengan dukungan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat. Penguatan ekspor yang terjadi sejak akhir triwulan I-2009 diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan pemulihan kondisi ekonomi dunia. Selain akibat perbaikan ekonomi dunia, akselerasi pertumbuhan ekspor juga didukung oleh karakteristik barang ekspor Indonesia yang berbasis komoditas primer yang mengalami pemulihan yang cukup cepat sejalan dengan perbaikan permintaan di negara-negara mitra dagang. Di sisi domestik, meskipun tidak setinggi selama periode Pemilu 2009, pertumbuhan konsumsi rumah tangga diprakirakan tetap relatif kuat dan menjadi penyumbang utama PDB. Kinerja konsumsi tersebut didukung oleh terjaganya tingkat keyakinan konsumen, perbaikan pendapatan akibat kinerja ekspor yang menguat, serta rendahnya laju inflasi. Dengan berbagai perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi di tahun 2010 diperkirakan mencapai 5,0-5,5%, sementara perekonomian Indonesia di tahun 2011 diperkirakan akan tumbuh mencapai 6,0-6,5%

Di sisi Neraca Pembayaran, prospek pemulihan ekonomi global akan berdampak positif terhadap Neraca Pembayaran Indonesia di tahun 2010. Perbaikan kinerja NPI didukung baik oleh perbaikan transaksi  berjalan maupun neraca transaksi modal dan finansial. Pemulihan ekonomi dunia yang terus berlanjut yang  disertai dengan berlanjutnya kenaikan harga komoditas dunia akan mendorong penguatan kinerja ekspor. Impor nonmigas diprakirakan mulai meningkat sejak semester II-2009 sejalan dengan meningkatnya aktivitas perekonomian domestik. Di sisi transaksi modal dan finansial, perbaikan kinerja ditopang oleh kondisi domestik dan eksternal yang lebih kondusif dibandingkan prakiraan sebelumnya.

Di sisi inflasi, tren inflasi di tahun 2010 dan tahun 2011 diprakirakan akan kembali ke pola normalnya.  Hal ini sejalan dengan semakin meningkatnya gerak mesin perekonomian Indonesia yang tumbuh membaik. Oleh karena itu, selama tahun 2010 dan 2011, laju inflasi diprakirakan berada pada kisaran 5%±1%. Di sisi eksternal, prakiraan inflasi tersebut juga disumbang oleh peningkatan inflasi mitra dagang sejalan dengan prakiraan membaiknya ekonomi global dan meningkatnya harga-harga komoditas internasional. Sementara dari sisi domestik, tekanan inflasi juga diprakirakan berasal dari peningkatan harga-harga administered prices. Di sisi inflasi volatile food, gangguan pasokan akibat kemungkinan terjadinya El Nino diprakirakan hanya akan memberikan tekanan inflasi yang minimum.

Dengan mempertimbangkan perkembangan-perkembangan tersebut di atas dan mengingat bahwa tingkat suku bunga BI rate sebesar 6,50% masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi pada tahun 2010 sebesar 5%±1%, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 3 Desember 2009 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,50%.  Stance kebijakan saat ini juga dipandang masih kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan intermediasi perbankan.

No responses yet

Dec 04 2009

Bola Panas Century

Published by Dias Satria under i am the economist

BOLA PANAS CENTURY

Dias Satria SE., M.App.Ec

Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Brawijaya

Belum tuntas dengan kasus Bibit dan Candra, kini Bola api Bank Century mulai menggelinding. Berbagai elemen dan kelompok masyarakat serta DPR kian giat mengungkap dan memperkarakan masalah ini ke ranah politik dan hukum. Pernyataan akademisi dan ekonom tentu kian usang dimakan taktisnya pernyataan-pernyataan politis. Namun untuk mengimbangi kasus ini secara proporsional, kasus ini secara sederhana dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pertama, Dalam kasus Bank Century dapat dilihat secara jelas bahwa titik permasalahannya ada pada mismanagement internal yang secara aktif melanggar ketentuan prinsip kehati-hatian hingga mengakibatkan kerugian dan tergerusnya modal, hingga mencapai CAR terendah mencapai titik 3%. Dalam hal ini jelas bahwa Bank Century telah melakukkan aktivitas keuangan diluar batas kewajaran, dengan melakukkan transaksi yang bersifat spekulatif di pasar keuangan.

Kedua, permasalahan selanjutnya dalam Bank Century adalah ketika Bank Indonesia dan Pemerintah tengah melakukkan injeksi bantuan likuiditas untuk membantu proses Recovery bank Century, para shareholder atau pemilik Modal Bank tersebut ramai-ramai melarikan uang tersebut ke Luar Negri.

Modus kejahatan perbankan ini persis seperti apa yang terjadi di tahun 1997 yang menyebabkan kerugian Negara hingga 700 Triliun. Dimana mismanagement perbankan pada saat itu disebabkan karena perbankan nasional sedang giat-giatnya meningkatkan posisi hutang luar negri guna menikmati perbedaan suku bunga yang besar dan stabilnya nilai tukar rupiah terhadap US Dollar. Keadaan ini yang selanjutnya disebut sebagai Overborrowing atau peminjaman yang berlebihan, sehingga ketika terjadi krisis moneter yang menyebabkan kurs anjlok berlipat-lipat, mereka kemudian terjerat hutang luar negri yang mematikan. Dalam kasus ini jelas mendorong BI untuk menginjeksi bantuan likuiditas guna mengamankan system keuangan dan system pembayaran dari hancurnya system perbankan (resiko sistemik). Namun ketika BI sudah menginjeksi dana tersebut, para pemilik modal yang banknya tersangkut masalah keuangan mulai kabur dan melarikan bantuan likuiditas BI.

Dalam kasus ini maka Kasus Bank Century hendaknya dilihat juga secara seimbang, secara ekonomi. Karena belakangan opini-opini kriminalisasi, politik dan hukumlah yang kerap mencuat dan difahami publik. Dalam kesempatan ini maka pandangan-pandangan secara ekonomi akan diungkapkan secara sederhana untuk menjelaskan kasus Bank Century.

Pertama, Bail Out Bank Sentral terhadap suatu bank tidak didasarkan pada apakah pemilik Bank tersebut memiliki record baik atau buruk, namun lebih didasarkan pada apakah kebankrutan tersebut menimbulkan masalah sistemik atau tidak. Dalam kasus ini tentu pertimbangan BI tidak terpengaruh pada mismanagement yang dilakukkan Bank Century sebelumnya, karena hal tersebut tidaklah urgent dipertimbangkan demi penyelamatan sisten perbankan dan sektor riil. Konteks Sistemik yang dimaksud adalah bahwa kebankrutan Bank Century dapat mentrigger krisis keuangan pada lembaga keuangan lainnya, baik secara langsung (Hubungan pinjaman atau connected lending) maupun mempengaruhi psikologis pasar keuangan secara umum (tidak langsung).

Kedua, dalam kondisi rentan krisis seperti yang terjadi saat ini “semua hal sangat mungkin terjadi” termasuk kejadian yang lebih parah yaitu: resiko sistemik dan krisis perbankan. Oleh karena itu pertimbangan untuk melakukkan Bail out menjadi pilihan yang cukup dilematis bagi Bank Sentral. Disatu sisi kebijakan ini dapat mengurangi kemungkinan terjadinya krisis perbankan, namun disisi lain Bail Out bisa diartikan sebagai implicit guarantee Bank Sentral pada siapapun pemilik Banknya.

Jangan mudah bermain kata-kata dan mempermainkan fakta

Permasalahan Bank Century hendaknya dapat diantisipasi secara arif oleh masyarakat Indonesia. Tentu ini merupakan pelajaran berharga dalam proses perjalanan bangsa ini kedepan, bahwa tindakan apapun harus dipertanggung jawabkan baik secara hukum, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Namun kita perlu lebih arif melihat sebuah masalah dan tidak mempermainkan fakta-fakta ini guna kepentingan kelompok dan keuntungan sesaat.

Bank Century saat ini tengah menjalani proses hukum, dan harus kita hargai bagaimana keputusan pengadilan karena penegakkan hukum “Law Enforcement” kian membaik di Negara ini. Namun sekali lagi, jangan pernah mempersempit ruang gerak ekonomi pemerintah untuk memajukan perekonomian domestik karena serangkaian masalah-masalah yang kian tidak proporsial dipermasalahkan, telah banyak berpengaruh pada perekonomian domestik. Masih banyak masalah-masalah ekonomi Bangsa ini yang lebih urgent untuk diselesaikan mulai permasalahan kemiskinan kronis, pertanian yang terpuruk, investasi yang stagnan dan masa depan ekonomi yang kian tidak jelas. Mari kita juga meluangkan fikiran kita untuk menolong ekonomi bangsa ini lebih maju dan siap dalam pertarungan ekonomi 2010 dalam ASEAN FREE TRADE AREA dan perdagangan bebas WTO (WORLD TRADE AREA).

Rekomendasi Kebijakan

Masalah dalam dunia perbankan sangat erat kaitannya dengan era globalisasi keuangan yang semakin pesat, disisi lain tuntutan untuk mempertahankan diri dalam kompetisi yang ketat juga kian muncul. Dalam Kasus Bank Century menjelaskan bahwa tingginya kompetisi perbankan dan era globalisasi keuangan (majunya pasar-pasar keuangan dan instrument keuangan) mendorong Bank-Bank Kecil seperti Bank Century untuk mencari keuntungan lain diluar aktivitas normal perbankan. Hal ini disebabkan karena tingginya kompetisi perbankan telah menggeser keuntungan perbankan, sehingga mereka berusaha mencari keuntungan lain dengan kompensasi resiko yang tinggi. Dalam konteks ini “JUJUR” bahwa Bank Indonesia tidak berhasil untuk melakukkan proses pengawasan yang ketat dan penhaturan kompetisi yang sehat. Bahkan di era resesi ekonomi semasa 2006-2008, BI seharusnya lebih “awas” terhadap transaksi-transaksi spekulatif yang dilakukkan oleh perbankan.

Dalam penanganan Bail Out, kriteria yang “rigid” memang perlu untuk diimplementasikan. Bahkan di saat krisis dan resesi kriteria Bail Out perlu di “Open” baik oleh Bank Indonesia maupun pemerintah. “Pandangan positif saya” Yang terjadi saat ini adalah setiap institusi yang ada melakukkan pengamanan system keuangan dengan kriteria yang difahami sendiri. Sehingga ketika mereka mengeksekusi Bail Out dengan dana yang besar (6,7 T), wajar banyak pihak yang mempertanyakan hal tersebut.

Dalam konteks ini ada beberapa hal yang harus dilakukkan:

Pertama, Bank Indonesia dan Pemerintah harus merumuskan sebuah kriteria dan tahapan “rigid” atas proses “Bail Out” baik dalam keadaan krisis maupun tidak krisis.

Kedua, Pengawasan aktivitas keuangan perbankan perlu ditingkatkan lagi, khususnya pada lembaga perbankan berasset rendah. Ada indikasi bank-bank tersebut luput dari pengawasan BI karena keaktifannya dalam permainan di pasar uang (spekulatif).

Ketiga, Revitalisasi intermediasi perbankan perlu dilakukkan oleh Bank Indonesia, melihat kecenderungan saat ini bahwa inovasi keuangan bank makin giat dilahirkan sejalan dengan permintaan pasar dan gaya hidup yang juga besar (Kartu Kredit, Kredit Konsumtif dll). Fenomena ini tentu harus dibatasi oleh BI karena hal tersebut sedikit sekali memberikan impact positif bagi pembangunan ekonomi secara utuh.

Dengan pemahaman ini diharapkan mispersepsi dan konflik atas kasus-kasus ekonomi dapat teratasi dengan baik dan tidak berlarut-larut menggangu perekonomian domestik.

One response so far