Mar 20 2009
Bank Indonesia di tengah Badai
BANK INDONESIA DITENGAH BADAI
Dias Satria SE.,M.App.Ec
(Dosen Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Brawijaya)
Republika 19 Maret 2009
Badai resesi global nampaknya belum juga reda, bahkan efeknya seakan-akan menyebar, lambat tapi pasti ke seluruh sendi-sendi perekonomian domestik. Hal yang paling nyata terjadi dalam pasar keuangan domestik, yang ditandai dengan menurunnya indeks bursa hingga menyentuh zona rawan dalam beberapa pekan. Bukan itu saja, rupiah juga relatif melemah di posisi Rp.11.000an, dan sama sekali tidak mampu mengangkat ekspor yang seharusnya bergairah di posisi kurs tersebut.
Gejolak sektor keuangan tentu menimbulkan trauma masa lalu, dimana krisis keuangan dan moneter 1997 ditandai dengan ambruknya bursa saham dan depresiasi kurs yang tinggi. Meski secara spesifik hal ini tidak dapat disamakan, karena pada tahun 1997 hutang luar negri jangka pendek (Swasta dan Pemerintah) yang berlebihan dan jatuh tempo, merupakan permasalahan dasar mengapa Negara kita jatuh dalam krisis. Namun bukan berarti tahun 2009 akan terbebas dari ancaman resesi, karena relatif kecilnya pinjaman jangka pendek luar negri kita, bahkan tahun 2009 bisa menjadi ancaman serius bagi perekonomian domestik jika policy maker (pemerintah) tidak mampu secara komprehensif menangani permasalahan riil ekonomi bangsa ini, serta perekonomian global tak kunjung membaik.
Bagi BI, keadaan ini tentu bukanlah situasi yang menyenangkan ditengah-tengah badai, baik yang datang dari sisi keuangan, sektor riil maupun non ekonomi (sosial, politik dll). Bahwa badai yang dihadapi BI saat ini skalanya sangat besar (global), dimana menurunnya daya beli masyarakat (dunia dan domestik) serta kepanikkan investor keuangan global turut mempengaruhi manajemen moneter yang diamanahkan pada BI.
Di bidang moneter, BI dihadapkan pada dilemma pencapaian stabilitas moneter (Inflasi) ataukah stabilitas nilai tukar. Salah satu masalah yang dihadapi terkait dengan tingginya tekanan terhadap rupiah yang mengharuskan BI melakukkan intervensi valas dengan merelakan cadangan devisa yang dimiliki. Secara sederhana (Uang inti = Currency + Cadangan), sehingga jika cadangan berkurang, uang inti akan berkurang dan tentu akan berimplikasi pada suku bunga yang meningkat karena semakin sedikitnya likuiditas di pasar. Kebijakan ini tentu saja akan berkonflik pada pencapaian IT (Inflation Targeting) BI.
Selanjutnya carut-marut dan gejolak pasar keuangan, yang dipicu oleh kepanikkan investor global tentu saja akan menyebabkan pergerakan modal yang tidak menentu. Dalam konteks ini, BI akan dihadapkan pada kondisi neraca devisa yang sulit untuk diprediksi, sehingga akan menyulitkan pengambilan keputusan terkait kebijakan moneter yang efektif.
Di sisi lain, keadaan resesi global menyebabkan permasalahan yang kompleks bagi perekonomian domestik, tidak hanya dari sisi demand namun juga dari sisi supply. Dari sisi permintaan jelas, bahwa resesi global menurunkan kinerja ekspor barang-barang domestik. Sedangkan sisi supply, disebabkan karena gulung tikarnya beberapa perusahaan dunia. Dalam konteks ini, model produksi dan distribusi global yang cenderung terpisah-pisah (model supply chain), menyebabkan permasalahan yang serius. Karena bisa jadi rantai produksi perusahaan-perusahaan domestik terkena imbas, karena gulung tikarnya perusahaan asing yang mensupply bahan baku. Ilustrasi yang sederhana, meskipun pasar laptop tidak begitu terpengaruh oleh krisis namun jika beberapa perusahaan microchip bankrut. Maka produksi laptop akan terganggu, sehingga akan mempengaruhi keberlanjutan industri laptop. Dan tentu saja, akan menular pada supplier penjual laptop, dan industri-industri lainnya.
Maka dari itu, ancaman terbesar perekonomian di tahun 2009 adalah ancaman runtuhnya industri-industri manufaktur domestik. Pertama, industri ini terancam karena pasar ekspor yang semakin menurun. Kedua, permasalahan supply chain yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya, akan menghambat produksi dan distribusi barang-barang produksi dalam negri.
Bagi sektor keuangan, runtuhnya industri manufaktur domestik sudah pasti akan menciptakan resiko yang besar, khususnya pada semakin tingginya kredit macet dalam perbankan-perbankan domestik. Dan hal ini, lambat laun, akan mempengaruhi kinerja sektor perbankan secara umum. Dalam mengantisipasi resiko yang lebih besar, terkait dengan kepanikkan masyarakat (rush) dan menurunnya nilai modal bank, maka perlu dilakukkan antisipasi dini dari Bank Indonesia untuk bekerjasama dengan pemerintah untuk menyelamatkan sektor industri domestik. Hal ini meski tidak sesuai dengan single objective BI yaitu pencapaian target inflasi. Namun situasi badai seperti yang terjadi saat ini, tidak membutuhkan langkah konvensional BI, bahwa langkah konkrit dan hati-hati serta tepat pada sumber permasalahannya dapat menjadi pereda badai dikemudian hari.
All in all, badai ekonomi saat ini bersumber pada ancaman keruntuhan industri manufaktur domestik yang secara tidak langsung pasti akan mempengaruhi sistem keuangan domestik. Sehingga BI perlu untuk melakukkan langkah proaktif dalam membantu menyelamatkan industri manufaktur, dari beberapa aspek:
Pertama, BI perlu melakukkan pemantauan yang melekat pada bank-bank yang terindikasi memberikkan pinjaman pada industri-industri tersebut. Sehingga penguatan modal harus sedini mungkin dikawal oleh BI, agar kerugian dan kebutuhan likuiditas jangka pendek mereka tidak terganggu.
Kedua, kebijakan ekspansi ekonomi harus lebih hati-hati dilakukkan oleh BI disaat krisis. Karena meskipun hal tersebut mampu meningkatkan sisi demand dalam perekonomian, namun efeknya terhadap industri manufaktur domestik bisa jadi bias, karena bisa jadi penguatan sisi demand hanya menyelematkan barang produksi asing. Di sisi lain, ekspansi ekonomi bisa jadi ancaman bagi penyelamatan target inflasi.
Ketiga, secara tidak langsung BI harus membantu memfasilitasi pemerintah untuk menciptakan pasar-pasar baru bagi barang domestik. Hal ini bisa dilakukkan dengan mendukung sistem yang lebih baik dalam transaksi keuangan crossborder bagi perusahaan domestik berorientasi ekspor. Dengan hal tersebut, diharapkan badai ini mampu diredam oleh BI.