Mar 02 2010
Menyingkap Temuan Pansus
MENYINGKAP TEMUAN PANSUS CENTURY
Dias Satria
Kerja Pansus dalam beberapa ke beberapa wilayah di Indonesia telah banyak menambah catatan rapor merah kinerja Bank Century. Temuan ini tentu saja semakin meyakinkan bahwa pelanggaran prinsip kehati-hatian dan kejahatan perbankan di tubuh Century semakin nyata. Namun temuan pansus memiliki dimensi yang perlu dikaji secara lebih dalam mengingat dugaan penyalahgunaan di lapangan seperti: Kloning rekening, rekening fiktif dll, yang secara hukum belum jelas kebenarannya sudah ramai dipublikasikan di media-media. Temuan ini tentu akan menimbulkan polemik baru yang akan mengganggu kinerja Bank Mutiara dan berpotensi menimbulkan instabilitas baru dalam sistem keuangan.
Tidak sedikit pihak yang berpandangan bahwa kerja pansus sebagai bagian dari invasi politik untuk menggoyang kinerja pemerintahan. Hal ini didasari dengan sangkaan bahwa telah terjadi transaksi ekonomi dan politik dari pihak tertentu guna membiayai kebutuhan dana partai guna kesuksesannya dalam pesta demokrasi. Dalam konteks ini sangkaannya adalah bahwa kebijakan Bail Out dilakukkan atas pesanan pihak yang telah mensokong dana tersebut. Namun tentu saja sangkaan ini masih belum berujung dan berlanjut tergantung dari temuan dan tindak lanjut fakta yang ditemukan dilapangan nantinya. Namun politik tetaplah politik, dan dalam kasus ini tidak luput dari transaksi politik yang melingkupinya.
Pengawas Bank Indonesia tidur nyenyak?
Pertanyaan sederhana dalam menyikapi temuan investigasi Pansus di Bank Mutiara (ex. Bank Century), adalah: Apakah pengawas Bank Indonesia selama ini diam saja atau tertidur nyenyak, karena dianggap tidak mampu menyingkap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukkan Bank Century?
Sedikitnya ada 2 alasan mengapa Pengawas Bank Indonesia tidak senyaring Pansus Century. Pertama, publikasi kasus-kasus pelanggaran dan rapor merah sebuah bank memiliki kode etik dan regulasi tertentu sebelum di publikasikan. Hal ini tentu saja terkait dengan prinsip TOO BIG TOO FAIL yang dianut oleh Bank Indonesia. Sehingga Bank Indonesia cenderung melakukkan treatment tertentu pada bank yang bersangkutan guna memperbaiki kinerjanya yang buruk, dan menghindari terjadinya kebankrutan yang memicu permasalahan pada bank lain.
Kedua, jika dilihat dari instrument, kewenangan dan kemampuan yang dimiliki oleh Bank Indonesia sepertinya kecil kemungkinan Bank Indonesia tidak mampu menyingkap kasus pelanggaran prinsip kehati-hatian dan kejahatan perbankan, permasalahan mendasarnya adalah ketika temuan telah ditemukan dilapangan maka pertanyaan selanjutnya dari BI adalah, …what’s next? Apakah ingin dibredel banknya sehingga mengancam stabilitas keuangan ataukah di perbaiki banknya dengan ancaman pro-kontra seperti kasus bail out yang saat ini ramai dibicarakan?
Dalam konteks ini permasalahannya sangatlah sederhana bahwa kejelasan regulasi dan petunjuk teknis terkait dengan BAIL OUT masih belum terbentuk dengan rapi. Hal ini dapat dilihat dari masih carut-marutnya pendapat dan pro-kontra ahli terkait dengan definisi dan pengukuran bank gagal, sistemik dan Bail Out. Sehingga hal ini juga mendorong para eksekutor termasuk Bank Indonesia maju mundur dalam menjaga stabilitas system keuangan.
Di sisi lain, hal ini juga seharusnya menjadi catatan penting PANSUS CENTURY bahwa jika di akhir penilaian kasus Century, Pansus tidak menghasilkan juklak penting terkait masalah mendasar seperti diatas (Bank Gagal, Sistemik dan Bail Out) sudah bisa dipastikan bahwa Pansus ini hanya bermain di air keruh dan tidak memberikkan kontribusi apa-apa terhadap perbaikan sistem keuangan nasional. Hal ini dikarenakan bahwa jika terjadi hal yang sama, maka akan mudah bagi Pansus-pansus bentukan lain untuk mementahkan kebijakan keuangan dan perbankan pemerintah.
Kontraproduktif Pansus: Bermain di air keruh stabilitas keuangan?
Kerja pansus Century tentu harus diapresiasi oleh masyarakat karena setidaknya temuan-temuan yang ada seharusnya menggugah masyarakat untuk semakin berhati-hati dengan uang simpanannya.
Pertama, masyarakat hendaknya tidak mudah teriming-iming dengan keuntungan selangit dan hadiah-hadian yang spektakuler dari perbankan, tanpa secara lebih arif menilai kinerja bank selama ini.
Kedua, banyak produk-produk investasi keuangan yang ditawarkan oleh pihak perbankan dengan iming-iming keuntungan yang besar. Namun dibalik itu menyimpan kerugian yang sangat besar. Ingat, sebesar dan selihai apapun seorang pialang pasti jatuh juga dihadapkan dengan kondisi pasar keuangan yang labil seperti saat ini.
Dua hal ini setidaknya yang harus dicamkan benar oleh masyarakat bahwa prinsip kehati-hatian harus selalu dijaga, dan dibalik keuntungan dan iming-iming yang besar pasti tersimpan resiko yang besar pula.
Namun ada hal yang mesti dipertimbangkan oleh Pansus Century terkait dengan ancaman lain yang mungkin dapat timbul dari cara kerja model Pansus. Dalam konteks ini Pansus harus lebih aware posisinya dalam menginvestigasi sebuah lembaga keuangan, karena apa yang dilakukkan oleh Pansus dapat menganggu upaya recovery Bank Mutiara dan pengembalian uang Negara.
Perlu difahami bahwa Roadshow Pansus kebeberapa wilayah di Indonesia tidak luput dari liputan media. Hal ini tentu saja tidak salah, mengingat kinerja Pansus yang sungguh-sungguh ini perlu mendapat atensi yang besar dari masyarakat. Namun jika pemberitaan yang muncul sudah beranjak dalam konteks yang lebih dalam seperti temuan kloning rekening, rekening fiktif dll, maka hal ini dapat menimbulkan ekspektasi yang salah dari masyarakat terhadap Bank Mutiara. Dalam konteks ini sebaiknya fakta yang diberitakan tidak sepotong-potong, dan biarlah fakta tersebut berkumpul di akhir penjelasan Pansus guna menghindari ekspektasi yang berlebihan dan negatif dari masyarakat terhadap system perbankan domestik.
Disadari atau tidak, bahwa masyarakat akan semakin enggan untuk menitipkan uangnya di Bank tersebut dengan alasan keamanan. Sehingga proses recovery Bank Mutiara untuk menjadi Bank yang sehat akan dihadapkan pada jalan yang berliku. Dalam hal ini maka ancama instabilitas system keuanganpun akan dapat terjadi, karena dikhawatirkan bank ini tidak akan mampu survive karena tidak diminati masyarakat.
Pahit getir perbankan
Tidaklah bijaksana jika kita menGENERALisasi kasus century sebagai sebuah wajah perbankan nasional yang carut marut dan tidak beraturan. Namun tentu saja kasus ini dapat dijadikan sebagai sebuah pijakan bagi beberapa pihak untuk lebih mengintrospeksi diri guna memperbaiki dan menyelematkan system keuangan perbankan domestik.
Pertama, Bagi Bank Indonesia tidak ada salahnya jika mereka juga melakukkan investigasi serupa, tidak hanya di Bank Mutiara namun juga pada Bank-Bank lainnya yang bermasalah. Hal ini tentu saja akan semakin membangunkan kinerja perbankan domestik dari praktek-praktek kejahatan dan pelanggaran prinsip kehati-hatian.
Kedua, Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas adalah masyarakat muslim. Ada baiknya jika mereka melakukkan introspeksi diri terhadap investasi keuangan yang mereka investasikan. Apakah investasi yang dilakukkan sudah sesuai dengan ketentuan dan pedoman dalam konteks syariah? Jika tidak, kenapa mereka tidak beranjak untuk lebih mengenal dan menengok system perbankan syariah yang secara rule dan produk lebih baik dan manfaat bagi kemashalahatan umat manusia. Alasannya sangat sederhana, bahwa investasi produk perbankan syariah lebih riil diprioritaskan untuk sektor riil, dan bukan produk keuangan yang cenderung spekulatif. Dalam konteks ini “Amanah” yang diberikan bagi perbankan untuk melaksanakan fungsi vital intermediasi akan lebih mudah berjalan dengan baik.
Ketiga, Pansus tidak akan lengkap fungsinya jika diakhir aktivitasnya tidak memberikkan kontribusi yang riil atas pedoman “BAIL OUT” dan pengukuran Bank Gagal dan Potensi Sistemik. Karena hal tersebut bisa saja menjadi kartu truf bagi Pansus untuk dikemudian hari mempersoalkan kebijakan-kebijakan pemerintah dalam menyelamatkan system keuangan dan perbankan nasional.
Buy:Seroquel.Lasix.Aricept.Buspar.Amoxicillin.Female Pink Viagra.Advair.Acomplia.Prozac.Nymphomax.Zetia.Wellbutrin SR.Cozaar.Benicar.Female Cialis.SleepWell.Lipothin.Ventolin.Zocor.Lipitor….