Dec 28 2009

Bank puas, masyarakat lemas, & BI jangan pulas

Published by Dias Satria at 7:40 am under Important Resources

Bank puas, masyarakat lemas, & BI jangan pulas
oleh : Martin P.H. Panggabean
Sekarang ini adalah saatnya Anda dihujani dengan berbagai proyeksi dan prediksi tentang 2010. Tiada hari tanpa prediksi, mulai dari yang ilmiah (memakai hitungan dan ilmu), semiilmiah (hanya memakai perasaan plus intuisi ilmu), sampai yang tidak ilmiah (ngelmu, begitu kata orang Jawa).
Kalau anda termasuk yang bosan dan muak dengan berbagai prediksi ini, yang kadang datang tidak diundang (dan barangkali pulang tidak diantar, seperti jelangkung), maka sebetulnya kini adalah saat anda balas dendam. Anda cukup membuka arsip media cetak tahun lalu dan membandingkan prediksi tahun lalu dengan kenyataannya.
Saya kurang mengerti mengapa media massa tidak pernah menurunkan tulisan untuk topik ini. Mungkin budaya ewuh pakewuh masyarakat timur yang terlalu mendominasi. Andai saja dilakukan evaluasi prediksi, pasti para pakar semakin berhati-hati dan semakin sedikit pula prediksi ngawur yang Anda dengar.
Walau demikian, ada beberapa prediksi dan perkiraan yang wajib Anda dengar. Salah satunya adalah prediksi dari institusi pemerintah. Estimasi pemerintah jauh lebih penting dan amat diperhatikan oleh pasar. Berbeda dengan prediksi dari lembaga-individu nonpemerintah yang bobot dan dampaknya lebih kecil.
Salah satu institusi lain yang gaung proyeksinya diperhatikan adalah Bank Indonesia. Termasuk pendapatnya untuk kasus pertumbuhan kredit. Cuma memang untuk kasus pertumbuhan kredit, kadang BI terlihat pesimistis (seperti pada 2008 ketika ternyata kredit bertumbuh di atas 30%, padahal perkiraan awalnya hanya sekitar 25%).
Untuk 2010, Bank Indonesia memasang target 15%-20%. Walaupun kemudian banyak analis berpendapat berbeda, tetapi saya ingin mengajak kita tidak terjebak kepada angka semata. Menurut hemat saya, ada aspek di balik angka tersebut yang jauh lebih perlu kita perhatikan.
Kita mulai dengan membedah angka pertumbuhan kredit saat ini. Untuk 2009 ini, Bank Indonesia sebaliknya (dibandingkan dengan 2008) terlalu optimistis karena pada awalnya mengestimasi pertumbuhan kredit diatas 20%.
Padahal, angka untuk terakhir (Oktober) menunjukkan angka pertumbuhan total kredit cuma 10.5%. Dengan waktu tersisa cuma 2 bulan, rasanya akan sangat sulit bagi kita untuk mengharapkan pertumbuhan 20% akan dapat tercapai.
Dengan melihat perilaku bank pada masa lalu, maka angka akhir pertumbuhan kredit akhir tahun ini memang bisa digenjot melalui berbagai usaha window-dressing. Dan memang ada insentif bagi individu didalam internal bank sendiri untuk melakukan window-dressing.
Pertama, terutama untuk bank, angka bulan Desember akan tercatat di dalam neraca terpublikasi. Angka ini akan menjadi acuan bagi para analis untuk melakukan valuasi harga saham yang wajar. Jadi usaha untuk mendongkrak pembukuan kredit jelas menjadi acara akhir tahun yang penting.
Kedua, bagi individu dalam bank, membukukan kredit pada akhir tahun adalah usaha terakhir untuk mempertahankan prestasi individu tersebut di tengah persaingan yang ketat. Beberapa bank sudah mulai menilai prestasi eksekutifnya (dan bonus) tidak lagi dari nilai pembukuan pada akhir tahun (yang sarat dengan window dressing), tetapi menilainya dari rata-rata pertumbuhan pembukuan kredit selama setahun. Namun belum semua bank melakukan hal yang baik ini.
Kesemuanya ini sebenarnya bermuara pada suatu kesimpulan bahwa pertumbuhan kredit bank pada 2009 ini sebetulnya tidaklah berjalan optimal. Manfaat apa yang dapat diraih oleh ekonomi Indonesia dengan pertumbuhan kredit yang nyaris single-digit seperti ini? Nyaris tidak ada.
Kalau kita membedah angka pertumbuhan kredit, kekhawatiran akan nasib kualitas pertumbuhan ekonomi menjadi semakin relevan. Coba lihat betapa kencangnya angka pertumbuhan kredit konsumsi.
Satu-dua tahun yang lalu, pangsa kredit modal kerja sekitar 60%, sementara kredit konsumsi dan kredit investasi masih seimbang sekitar 20%. Kini, angka pangsa KMK cuma tinggal 50%, kredit konsumsi sudah nyaris berlipat dua dengan pangsa 37% dari total kredit.
Pertumbuhan ekonomi berkualitas seperti apa yang kita harapkan ketika saat ekonomi krisis perbankan kita malah sibuk memperhatikan high-yield segment yang hanya memeras tabungan konsumen.
Alih-alih mengajak mereka menabung, perbankan malah sibuk mengajak masyarakat untuk rajin berutang. All in the name of high-yield margin and profits of individual banks, sungguh mengenaskan dan neolib.
Itu dari perspektif agregat perbankan. Kalau kita membedah satu lapis lebih dalam, terlihat bahwa penyebab lambannya pertumbuhan kredit nasional adalah pada bank swasta nasional dan bank asing. Dari 10% pertumbuhan kredit, kontribusi bank asing dan swasta nasional (yang notabene sudah dikuasai asing) cuma sekitar 3 percentage points. Angka kontribusi yang kecil sekali padahal pangsa mereka sudah sekitar 50% dari total pasar.
Kalau Anda lihat kontribusi perbankan asing dan swasta nasional yang sudah dikuasai asing, mereka sama sekali tidak berkontribusi dalam pemberian kredit investasi (sekitar 0%) dan malah menurunkan kredit modal kerja (minus 10% dibanding tahun lalu).
Namun, begitu kita berbicara tentang margin yang besar di kredit konsumsi, maka pertumbuhan kedua jenis bank ini melesat jauh meninggalkan bank-bank lain (mendekati angka 30%). Dalam jangka waktu yang lama (paling tidak 10 tahun terakhir ini) perbankan asing dan swasta nasional asing ini dapat mematok bunga yang relatif flat (nyaris tidak berubah dari tahun ke tahun) dan mendapatkan margin bunga 30% di atas SBI.
Artinya, semakin SBI turun, semakin besar keuntungan yang mereka dapatkan.
Jangan heran bahwa kondisi margin yang terlalu besar ini kemudian membuat perbankan lainnya akan ikut-ikutan berpindah ke sektor kredit konsumsi yang high-yield ini. Kalau tidak ada langkah-langkah tegas dari Bank Indonesia, dapat dipastikan bahwa pertumbuhan keuntungan perbankan akan semakin baik pada 2010, tetapi berdampak buruk pada kualitas pertumbuhan nasional.
Pertumbuhan kredit yang lambat pada 2009 ternyata tidak terlalu berdampak pada keuntungan perbankan. Pada 2010 ketika pertumbuhan kredit membaik, perbankan terlihat sibuk masuk ke sektor kredit konsumsi, dampaknya kontribusi perbankan ke pertumbuhan dan kualitas ekonomi nasional semakin memprihatinkan.
Perlu pembatasan
Ekonomi yang didorong konsumsi bukanlah hal yang membanggakan. Sudah tiba saatnya Bank Indonesia membatasi (capping) suku bunga kredit di sektor konsumsi. Saya selalu setuju pada pengaturan.
Capping suku bunga bukanlah barang asing di banyak negara maju. Tidak ada alasan bagi kita untuk terus membiarkan price gouging terus berlangsung. Kalau free market menyebabkan perilaku menyimpang ini terus terjadi, maka sudah saatnya market imperfection ini diperbaiki. Saya yakin akan hal yang satu ini.
Selain itu, semenjak awal Bank Indonesia harus lebih tegas dalam melihat rencana bisnis setiap individu bank untuk 2010 ini. Ekspansi yang berlebihan dan tidak seimbang di sektor konsumsi harus dibatasi. Ini akan terlihat dari rencana bisnis 2010. Setiap rencana bisnis yang tidak seimbang harus diperbaiki oleh bank. Mereka harus masuk ke sektor riil, titik.
Bukan hanya itu, pengawas bank juga harus lebih ‘galak’ dan tegas untuk mendeteksi dan memperbaiki deviasi realisasi dari rencana bisnis.
Tindakan korektif ini tidak bisa menunggu sampai paruh kedua 2010. Namun harus dilaksanakan setiap kuartal. Ada dua pihak dalam Bank Indonesia yang berperan: pengawas dan Dewan Gubernur.
Pascameledaknya kasus Bank Century, Bank Indonesia menjadi salah satu pihak yang mendapat kritik tajam karena pengawasannya yang dianggap terlalu lunak. Maka pengawasan oleh BI harus diberi kesempatan kali ini untuk untuk berperan lebih tegas dan keras demi mencapai pertumbuhan kredit yang kredit yang berkualitas.
Di pihak lain, Dewan Gubernur tampak sudah bergerak ke arah yang sama dengan beberapa imbauannya kepada bank tentang penyaluran kredit serta pembatasan marjin suku bunga.
Namun beberapa hal perlu menjadi catatan. Pertama, harus dipastikan agar kebijakan yang diambil tersebut datang dengan satu suara dari dalam BI sendiri. Kedua, dari suara-suara nyinyir yang terdengar, tampaknya tidak seluruh elemen perbankan mendukung hal ini. Ketiga, belum terlihat kebijakan BI yang jelas tentang kredit konsumsi baik dari sudut penyaluran kredit yang tidak seimbang maupun dari margin bunga yang luar biasa lebar.
Bagi BI dan pemerintah, pertaruhannya sebetulnya bukan hanya pada isu ekualitas pertumbuhan ekonomi. Tetapi kelak bisa berkembang menjadi isu politis tentang mengapa kita waktu itu pernah mengundang bank asing ke Indonesia tanpa manfaat yang berarti.
Tanpa perubahan sikap, BI dan pemerintah akan terus berjalan semakin jauh memasuki ranah politik sentimen nasionalisme yang kemudian bisa semakin tajam dan tidak terkendali. Suara-suara ini sudah semakin keras terdengar belakangan ini. Rasanya kita bisa (dan harus) banyak berharap akan adanya tindakan korektif dari BI. Segera.
Oleh Martin P.H. Panggabean
Ekonom Independen, bekerja di Bank Mandiri
http://web.bisnis.com/artikel/2id2708.html

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply