Aug 02 2009

New Keynesian Economics

Published by Dias Satria at 6:43 pm under Important Resources

New Keynesian Economics (Bagian I)

New Keynesian economics merupakan school of thought dalam ekonomi makro modern yang berkembang dari ide John Maynard Keynes. Keynes menulis buku  The Theory of Employment, Interest, and Money tahun 1930an, dan pengaruh pemikirannya sangat kuat di kalangan akademisi dan pembuat kebijakan sampai dengan tahun 1960. Namun demikian pada tahun 1970-an, ekonom New Classical seperti Robert Lucas, Thomas J. Sargent, dan Robert Barro mempertanyakan pemikiran dari revolusi Keynesian. Label “New Keynesian”  mengambarkan para ekonom (pada tahun 1980-an) yang merespon dari kritik new classical dengan melakukan penyesuaian aliran original  Keynesian.

Pokok ketidaksepakatan antara ekonom new classical dan new Keynesian adalah seberapa cepat wages dan price melakukan penyesuaian. Para ekonom new classical membangun teori ekonomi makro dengan mengasumsikan bahwa wages dan price adalah fleksibel. Mereka percaya bahwa pada pasar terjadi “market clearing” –keseimbangan supply dan demand- dengan penyesuaian harga yang dengan cepat. Para ekonom New Keynesian percaya bahwa model “market clearing” tidak dapat menjelaskan fluktuasi ekonomi dalam jangka pendek, dan mereka menawarkan model dengan “sticky” wages dan prices. Teori new Keynesian mengacu pada stickiness of wages and prices untuk menjelaskan mengapa terjadi adanya involuntary unemployment dan mengapa kebijakan moneter mempunyai pengaruh yang kuat aktivitas ekonomi.

Tradisi yang panjang dalam ekonomi makro (termasuk kedua perspektif Keynesian dan monetarist) menekankan bahwa kebijakan moneter akan mempengaruhi orang bekerja dan produksi dalam jangka pendek, sebab harga akan merepon sluggishly adanya perubahan dalam money supply. Menurut pandangan ini, jika money supply menurun, orang-orang akan mengurangi pembelanjaan uang dan permintaan barang akan menurun. Karena harga dan upah adalah inflexible dan tidak segera menurun, maka penurunan pengeluaran masyarakat akan  menyebabkan penurunan penurunan produksi dan layoffs pekerja. Ekonom New Classical mengkritisi tardisi isi sebab penjelasan teoritis tentang perilaku penyesuaian harga dan upah yang lambat kurang masuk akal. Banyak penelitian New Keynesian berupaya untuk mengatasi kekurangan ini.

Menu Costs and Aggregate-Demand Externalities

Salah satu alasan harga tidak segera menyesuaikan untuk market-clearing yaitu penyesuaian harga membutuhkan biaya  mahal. Untuk merubah harga, sebuah perusahaan mungkin perlu mengirimkan katalog baru kepada pelanggan, mendistribusikan daftar harga baru kepada  staf penjualan, atau, dalam hal restoran, mencetak menu baru. Biaya dari penyesuaian harga ini, dinamakan “menu cost” menyebabkan perusahaan untuk menyesuaikan harga periode tertent daripada terus-menerus.

Para ekonom tidak setuju mengenai apakah menu cost dapat membantu menjelaskan fluktuasi ekonomi dalam jangka pendek. Sikap skeptis ditunjukkan bahwa menu cost biasanya sangat kecil. Mereka menyatakan bahwa biaya yang “kecil” ini tidak mungkin untuk membantu menjelaskan resesi, yang sangat mahal bagi masyarakat. Para pendukung memberikan alasan bahwa “kecil” tidak berarti “ngawur”. Walaupun menu biaya kecil untuk setiap perusahaan, mereka dapat memiliki dampak besar pada perekonomian secara keseluruhan.

Para pendukung dari menu-cost hipothesis menggambarkan situasi sebagai berikut. Untuk memahami mengapa harga menyesuaikan secara perlahan, satu hal harus mengakui bahwa ada perubahan harga eksternalitas-yaitu, efek dibalik hubungan perusahaan dan pelanggan. Misalnya, penurunan harga oleh satu perusahaan akan memberikan keuntungan perusahaan lainnya dalam suatu perekonomian. Ketika sebuah perusahaan menetapka penurunan harga, dan harga tersebut sedikit lebih rendah dari tingkat harga rata-rata dan dengan demikian akan meningkatkan pendapatan riil. Stimulus dari pendapatan riil yang lebih tinggi, pada gilirannya, meningkatkan permintaan untuk produk-produk dari semua perusahaan. Dampak makroekonomi dari penyesuaian harga satu perusahaan mengakibatkan pada permintaan produk-produk semua perusahaan (disebut “aggregate demand externality”).

Adanya aggregate-demand externality, Menu cost dapat membuat price sticky, dan stikines ini dapat membuat biaya yang besar bagi masyarakat.. Misalnya suatu pabrik mobil (X)  mengumumkan harga-nya dan kemudian, setelah adanya penurunan money supply, perusahaan tersebut harus memutuskan apakah akan menurunkan harga. Jika terjadi demikian, pembeli mobil akan memiliki pendapatan rill yang lebih besar dan oleh karena itu akan membeli produk dari perusahaan lain juga. Tetapi manfaat kepada perusahaan lain tidak menjadi perhatian pabrik mobil (X) tersebut. Karena itu, Pabrik Mobil (X) kadang-kadang gagal untuk membayar menu cost dan menurunkan harganya, walaupun penurunan harga itu keinginan masyarakat. Ini adalah contoh dari sticky price yang tidak dikehendaki untuk perekonomian secara keseluruhan, walaupun itu mungkin akan optimal bagi mereka yang menetapkan harga.

New Keynesian Economic (Bagian II)

The Staggering of Prices

Penjelasan New Keynesian tentang sticky prices sering menekankan bahwa tidak semua orang dalam perekonomian menentukan harga pada saat yang sama. Namun, penyesuaian harga sepanjang siklus perekonomian adalah staggered. Proses staggering menyulitkan untuk menetapkan suatu harga oleh karena perusahaan sangat memperhatikan harga produknya dibandingkan dengan perusahaan lain. Proses staggering dapat membuat keselurahan tingkat harga melakukan penyesuaian secara perlahan-lahan, meskupun ketika harga secara individual sering berubah.

Proses penyesuai harga dapat diilustrasikan sebagai berikut. Misalnya, pertama, penetapkan harga yang  disinkronisasikan: setiap perusahaan menyesuaikan harganya pada setiap bulan. Jika suplai uang beredar menigkat dan permintaan agregat meningkat pada 10 Mei, maka output akan lebih tinggi dari 10 Mei ke 1 Juni, karena harga adalah fixed selama interval ini. Namun demikian, pada 1 Juni, semua perusahaan akan menaikkan harga mereka untuk merespon permintaan agregat yang tinggi, yaitu  boom pada tiga minggu terakhir.

Apabila, sekarang dimisalkan penetapan harga adalah staggered: sebagian perusahaan menetapkan harga pada setiap awal bulan dan sebagian lagi pada  hari ke limabelas. Jika suplai uang beredar meningkat pada 10 Mei, maka sebagaian perusahaan-perusahaan dapat menaikkan harga pada 15 Mei dan sebagaian perusahaan-perusahaan lainya tidak akan mengubah harga pada hari kelimabelas. Perbedaan harga relatif ini, akan mengakibatkan sebahagian perusahaan akan kehilangan customers. Oleh sebab itu, sebagian perusahaan yang merubah harga mungkin dengan menaikan harganya tidak banyak. (Ini kontras, jika semua perusahaan melakukan sinkronisasi harga, sehingga tidak berpengaruh pada harga relative). Jika perusahaan yang merubah harga pada 15 Mei dengan penyesuaian harga sedikit, maka pada gilirannya perusahaan lain akan melakukan penyesuaian sedikit juga pada 1 Juni, karena mereka juga ingin menghindari perubahan harga relatif. Tingkat harga akan meningkat secara perlahan sebagai hasil dari kenaikan harga kecil pada awal dan hari kelimabelas setiap bulannya. Oleh karena itu, proses staggering membuat tingkat harga berubah lambat, karena tidak ada perusahaan berkeinginan untuk menjadi yang pertama dalam kenaikan harga yang besar.

Bersambung……

Sumber:

  • Mankiw, N. Gregory, and David Romer, eds. New Keynesian Economics. 2 vols. Cambridge: MIT Press, 1991.
  • N. Gregory Mankiw is a professor of economics at Harvard University. (http://gregmankiw.blogspot.com/).
  • Clarida, Richard, Jordi Gali, and Mark Gertler. “The Science of Monetary Policy: A New Keynesian Perspective.” Journal of Economic Literature 37 (1999): 1661–1707.
  • Goodfriend, Marvin, and Robert King. “The New Neoclassical Synthesis and the Role of Monetary Policy.” In Ben S. Bernanke and Julio Rotemberg, eds., NBER Macroeconomics Annual 1997. Cambridge: MIT Press, 1997. Pp. 231–283.

http://mhs.blog.ui.ac.id/sanj55/2009/05/05/new-keynesian-economic-bagian-ii/

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply